ILMU PENGETAHUAN DAN ETIKA: Sebuah Relasi demi Manusia dan Kemanusiaan

Pendahuluan

Peradaban manusia, bergerak dengan logikanya sendiri, membentuk bangunan alur sejarah yang berkorelasi dengan kepentingan manusia dan kemanusiaan. Bila di awal-awal perkembangannya ia bergerak secara perlahan dan linear[1], seiring dengan ritme kebutuhan manusia yang masih terkungkung oleh mitologi, akan tetapi secara perlahan kemudian memperlihatkan akselerasinya setelah tersentuh oleh ilmu pengetahuan dan teknologi yang dihasilkan oleh komponen-komponen modernitas di bawah terang jiwa dan semangat renaissance dan Aufklärung.

Renaissance adalah zaman yang didukung oleh cita-cita untuk melahirkan kembali manusia yang bebas, yang telah dibelenggu oleh zaman abad tengah yang dikuasai oleh Gereja atau agama. Manusia bebas ala Renaissance adalah manusia yang tidak mau lagi terikat oleh orotitas yang manalun (tradisi, sistem gereja, dan lain sebagainya), kecuali otoritas yang ada pada masing-masing diri pribadi. Manusia bebas ala Renaissance itu kemudian “didewasakan” oleh zaman Aufklärung, yang ternyata telah melahirkan sikap mental menusia yang percaya akan kemampuan diri sendiri atas dasar rasionalitas, dan sangat optimis untuk dapat menguasai masa depannya, sehingga manusia (Barat) menjadi kreatif dan inovatif. Ada daya dorong yang mempengaruhi perkembangan ilmu dan teknologi yaitu pandangan untuk menguasai alam. Tiada hari tanpa hasil kreasi dan inovasi. Semenjak itulah dunia Barat telah melakukan tinggal landas memenuhi atmosphir ilmu pengetahuan yang tiada bertepi untuk menaklukkan dan menguasai alam demi kepentingan “kesejahteraan hidupnya”.[2]

Nilai-nilai dasar yang terbangun oleh zaman Renaissance dan Aufklärung ini, semakin diperkokoh dan memperoleh tambatan filosofis yang kuat, ketika madzhab positivisme, mulai muncul dan berkembang di dunia barat. Dengan menekankan pada eksplorasi dan pengembangan aspek epistemologi sebagai titik sentral refleksi filosofisnya, madzhab positivistik tampil sebagai keuatan hegemonik, yang tidak saja mereduksi aliran pemikiran lain, akan tetapi telah menggeser peran filsafat dan agama dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Manusia baru dapat menjadi rasional dan dewasa, apabila segala mitos, agama dan filsafat abstrak metafisik, diganti oleh ilmu pengetahuan[3]. Dalam konteks yang demikian postivisme yang bertumpu pada aspek epistemologi telah merubah wujudnya menjadi saintisme[4].

Pondasi Ilmu pengetahuan modern ini kemudian diperkuat dengan lahirnya mekanika Newton[5] yang pada dasarnya mengakhiri perdebatan filosofis antara aliran empirisme Francis Bacon dan aliran Rasionalisme Renĕ Descrates, dengan mengajukan metoda hipotetiko-deduktif yang dikawinkan dengan metoda eksperimental-induktif. Artinya ilmu pengetahuan modern bukan sekedar rasional ataupun empiris saja. Hakekat ilmu pengetahuan adalah pengetahuan rasional empiris atau pengetahuan rasional obyektif.

Dibawah paradigma madzhab positivistime, yang bertulang punggung nilai-nilai rasionalitas, empirikal dan objektif, serta pengandaian-pengandaian (yang merupakan pengandaian dalam madzhab positivistik) : distansi penuh, netralitas, manipulasi, hukum-hukum, bebas kepentingan, universalitas, dan instrumentalis[6], ilmu pengetahuan berhasil membuka rahasia dalam berbagai domain kehidupan, yang belum pernah terpikirkan di masa-masa sebelumnya.

Sejak saat itu ilmu pengetahuan dan teknologi, telah memberi manfaat yang tidak kecil bagi manusia, untuk memenuhi berbagai kebutuhannya dan membantu manusia mangatasi sebagian masalah yang dihadapi. Penemuan revolusi ilmiah Copernicus pada 1542, yang dilanjutkan dengan revolusi industri tahun 1771, serta penemuan mesin uap pada 1829 yang disebut era pertama dimulainya revolusi teknologi,  benar-benar telah merubah cara pandang manusia terhadap kerja, demikian pula dengan ditemukannya teknik listrik, industri berat dan juga automobil, serta munculnya ilmu-ilmu baru seperti  Teknologi Rekayasa Genetika, Teknologi Kloning, Brain Enhancement Technology (BET), Nanoscience dan Nanotechnology, Nanobiotechnology[7], Bioinformatika, Computer Sciences, Teknologi Informasi dan Komunikasi, Riset dan Teknologi Sel Punca (Stem Cells Research)[8], menjadi solusi dari berbagai masalah yang dihadapi umat manusia dewasa ini

Akan tetapi disisi lain, tidak dapat pula diabaikan adanya berbagai dampak negatif dari perkembangan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi, penggunaan bom atom, senjata biologis dan kimia serta senjata pemusnah massal lainnya, dalam drama peperangan antar umat manusia, limbah beracun dan pencemaran yang diakibatkan indutrialisasi, atupun polusi yang diakibatkan radiasi nuklir yang berasal dari reaktor nuklir, serta akumulasi molekul CO2 di atmosfer yang kemudian menyebabkan pemanasan global melalui efek rumah kaca, merupakan sebagian dari berbagai dampak negatif yang harus dipikul oleh umat manusia sebagai akbat perkembangan ilmu pengetahuan dan pemanfaatan teknologi.

Para ilmuwan biasanya berlindung terhadap kritik dari luar terhadap ilmu pengetahuan yang berdasarkan penggunaan ilmu pengetahuan menjadi senjata pemusnah dengan mengatakan ilmu pengetahuan itu netral, begitu juga teknologi yang merupakan penerapan ilmu pengetahuan. Teknologi itu bagaikan pisau: di tangan pembunuh dia menjadi senjata yang mematikan, di tangan dokter bedah dia menjadi penyelamat manusia. Begitu juga teknologi, misalnya teknologi nuklir bisa digunakan untuk penghancur, namun dia bisa digunakan untuk sumber energi pengganti teknologi energi yang menggunakan bahan bakar fosil.

Apakah memang demikian seharusnya? Benarkan pengembangan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi, benar-benar bersifat otonom dan terlepas sama sekali dengan persoalan etika?

Etika dan ilmu, pada dasarnya memiliki relasi dalam kedirian masing-masing. Etika merupakan cabang aksiologi yang pada pokoknya membicarakan masalah predikat-predikat nilai “betul” (“right”) dan “salah” (“wrong”) dalam arti “susila” (“moral”) dan “tidak susila” (“immoral”)[9]. Menurut Robert C. Solomon etika adalah bagian filsafat yang meliputi hidup baik, menjadi orang baik, dan menginginkan hal-hal yang baik dalam hidup. Kata “etika” menunjuk pada disiplin ilmu yang mempelajari nilai-nilai dan pembenarannya, serta nilai-nilai hidup kita yang sesungguhnya dan hukum-hukum tingkah laku kita[10].

Etika, seringkali berfungsi sebagai sesuatu yang membatasi. Membatasi dalam hal ini memiliki tujuan agar tidak terjadi deviasi nilai dalam sistem masyarakat. Sebenarnya pembenaran atau penyalahan tindakan mempunyai sifat relatif. Karena etika memiliki nilai subyektivitas, mencakup pandangan dan pemikiran individu yang terkadang dianggap ‘berbeda’ dengan kaum mayoritas yang memiliki regulasi dan penataan yang telah dikukuhkan. Etika adalah ilmu yang reflektif dan kritis. Norma-norma dan pandangan moral dengan sendirinya sudah terdapat dalam masyarakat[11]. Hal ini yang akan menciptakan bumping antara yang sudah tertanam dan yang baru datang.

Pada hakikatnya, etika mengandung sebuah pilihan[12] Kebebasan untuk memilih apa yang akan dilakukan, dijadikan dasar, atau hal-hal lain yang bersifat ‘harus dipilih’. Di sinilah ilmu dan etika membuat problematika. Ilmu yang saat ini semakin berkembang, terkadang mengabaikan nilai-nilai yang telah tertanam. Namun bila dipikirkan secara lebih mendalam, ilmu yang dalam perkembangannya dikekang oleh nilai-nilai, seakan tidak memiliki kebebasan untuk maju. Menurut Aristoteles, jika sebelumnya sudah dipatok apakah bermanfaat atau tidak, ilmu tidak akan berkembang[13].

Dengan adanya berbagai problem inilah, maka pada paragrap-paragrap di bawah ini akan dideskripiskan bagaimana sesunguhnya relasi antara ilmu dan etika tersebut.

Perkembangan Filsafat Ilmu :  Sebuah Gerak Dialektik dalam Lintasan Sejarah

Sejarah manusia untuk menemukan pengetahuan yang benar, bergulir melalui proses dialektika, yang memperlihatkan proposisi dan postulat dengan derajat perbedaan yang sangat beragam, dari yang memperlihatkan perbedaan secara inkremental, hingga saling bertolak belakang secara diametral.

Para pemikir (rokhaniawan) di era Kebudayaan Yunani kuno, yang berupaya membangun “pengetahuan yang benar” berdasarkan konsep bios theoretikhos (dimana pengetahuan itu diyakini akan diperoleh melalui serangkaian ritus keagamaan), kemudian digantikan oleh konsep ontologi yang lahir sebagai upaya para filosof Yunani (Kelompok pemikir yang kemudian bermetamorfosis menjadi madzhab  positivisme[14]), yang lebih mengutamakan kekuatan dan kemampuan rasio dan pengamatan.

Tradisi keilmuan berdasarkan konsep bios theoretikos, yang dibangun dengan menghubungkan secara erat antara teori dan praxis (mempertautkan pengetahuan dan kepentingan), dipandang tidak relevan bagi upaya-upaya untuk memperoleh pengetahuan yang benar, karena pencarian pengetahuan yang benar tidak dapat disandarkan pada pengetahuan yang diperoleh melalui ritus-ritus keagamaan dan upacara-upacara mistis ataupun cara-cara yang bersifat metafisik lainnya, melainkan harus dilakukan melalui ilmu pengetahuan. Proses demitologisasi melalui pengembangan konsep ontologi inilah, yang kemudian  mengikis habis konsep bios theoretikos, dan memberikan alternatif lain sebagai pondasi dasarnya yaitu rasionalitas dan empirisme, menuju terbentuknya masyarakat positif yang “ilmiah”.

Melalui pengandain-pengandaian keilmuan yang  mengikuti apa yang terdapat dalam ilmu-ilmu alam, kaum positivisme berupaya menuju pada pemurnian ilmu pengetahuan yang dilakukan melalui proses kontemplasi bebas-kepentingan (sikap teoritis murni), dengan cara memisahkan secara tegas antara teori dengan praxis (pengetahuan dengan kepentingan).

Madzhab positivistime, sebagai salah satu aliran filsafat, telah berkembang dalam alur sejarahnya sendiri.  Madzhab pemikiran ini berkembang sebagai bagian dari upaya untuk menemukan dan membangun pengetahuan yang benar, dengan cara memurnikan ilmu pengetahuan, yang dilakukan melalui proses kontemplasi bebas-kepentingan (sikap teoritis murni).

Akar sejarah perkembangan madzhab positivisme dapat diruntut dari mulai munculnnya pemikiran filosofis dalam masyarakat Yunani yang bermaksud melakukan demitologisasi pemikiran-pemikiran mistis.  Sebelum munculnya pemikiran filosofis ini, kebutuhan untuk memperoleh pengetahuan yang benar telah ada dalam tradisi pemikiran Yunani purba. Pada masa itu upaya untuk memperoleh pengetahuan yang benar, dilakukan dengan mempertautkan antara teori dan praxis hidup manusia sehari-hari, yang senantiasa mengacu pada cita-cita etis, seperti: kebaikan, kebijaksanaan atau kehidupan sejati, baik secara individual maupun secara kolektif, di dalam polis (negara kota). Melalui teori, manusia memperoleh suatu orientasi untuk bertindak secara tepat, sehingga praxis hidupnya dapat merealisasikan kebaikan, kebahagiaan, dan kemerdekaan. Dengan kata lain, dalam tradisi pemikiran Yunani purba, pengetahuan tidak dipisahkan dari kehidupan konkret. Pemahaman mengenai pengetahuan semacam itu tertuang  secara padat dalam istilah bios theoretikos [15].

Bios theoretikos merupakan suatu bentuk kehidupan, suatu “jalan” untuk mengolah dan mendidik jiwa, dengan membebaskan manusia dari perbudakan dan doxa[16] dan dengan jalan itu manusia mencapai otonomi dan kebijaksanaan hidup.

Kata theorea berasal dari tradisi keagamaan kebudayaan Yunani kuno. Theoros adalah seorang wakil yang dikirim oleh polis untuk keperluan ritus keagamaan.  Dalam ritus ini orang melakukan theorea (memandang), ke arah peristiwa sakral yang dipentaskan, dan kemudian berpartisipasi didalamnya.  Melalui  theorea ini setiap orang mengalami emansipasi dari nafsu-nafsu rendah.  Pengalaman ini dalam istilah Yunani disebut katharsis (purifikasi, pembebasan diri dari perasaan dan dorongan fana yang berubah-ubah). Dengan demikian dalam pengertian awalnya, teori memiliki kekuatan emansipatoris[17].

Konsep bios theoretikos yang telah terbangun dan dipraktikkan dalam tradisi kebudayaan keagamaan Yunani kuno inilah yang kemudian digugat oleh para filosof Yunani, melalui pemikiran-pemikiran filsafatinya. Berdasarkan ungkapan-ungkapan berdimensi filosofis, teori mulai dijauhkan dari ritus-ritus keagamaan, meskipun secara harfiah memiliki arti yang sama, yaitu “memandang”. Dalam pemikiran filosofis, teori lalu diartikan sebagai  “kontemplasi atas kosmos”.  Dalam kontemplasi ini, para filosof memandang alam semesta dan menemukan suatu tertib yang tidak berubah-ubah, yaitu suatu makrokosmos.[18] Dengan memandang makrokosmos, sang filosof menyadari adanya gerak alamiah dan nada harmonis yang sama dalam dirinya sendiri.  Oleh karena itulah, yang kemudian dilakukan oleh filosof adalah menyesuaikan diri dengan tertib alam semesta itu. Tertib harmonis makrokosmos merupakan keadaan yang baik, dan pengetahuan akan apa yang baik itu, mendorongnya untuk mewujudkan tertib itu dalam tingkah laku kehidupannya sendiri.  Dengan jalan ini, sang filosof  melakukan kegiatan yang disebut mimesis (meniru).  ”kontemplasi atas kosmos”, dengan demikian, menjadi tingkah laku praktis, melalui keasadaran akan dirinya, sebagai mikrokosmos.

Pada titik inilah, teori mulai dipisahkan dari praxis. Dengan mengartikan teori sebagai kontemplasi atas kosmos, filsafat telah menarik garis batas antara ”ada” dan ”waktu”, yaitu antara yang ”tetap” dan yang ”berubah-ubah”. Inilah bibit cara berpikir yang menyebabkan lahirnya ontologi dalam sejarah pemikiran manusia. Melalui teori, para filosof mulai menyusun konsep-konsep tentang ”ke-apa-an” (hakekat) benda-benda, karena ”ke-apa-an” (hakekat) benda-benda tak lain adalah inti kenyataan yang tetap (tidak berubah-ubah).

Dengan berusaha mengangkat pemahamannya kedalam rumusan yang tak berubah-ubah, filsuf  berkehendak menerapkan pemahaman konseptual akan kosmos itu pada berbagai situasi. Pemahaman semacam ini dipandang sebagai pengetahuan yang sejati, dan untuk memperoleh pengetahuan yang sejati, teori harus dimurnikan dari unsur-unsur yang berubah-ubah, yaitu dorongan-dorongan dan perasaan-perasaan subjektif manusia sendiri.  Sikap mengambil jarak dan membersihkan pengetahuan dari dorongan empiris itu disebut ”sikap teoretis murni”.  Dengan sikap itu manusia dapat memahami kenyataan sebagaimana adanya. “Kontemplasi atas kosmos” kemudian menjadi “kontemplasi bebas-kepentingan”. Dengan menekankan pada kepentingan, manusia berupaya membebaskan diri dari dorongan dan perasaan yang dianggapnya sebagai kekuatan jahat  Dengan kata lain, khatarsis yang semula dialami lewat upacara mistis, sekarang dicapai lewat kemauan manusia sendiri, yaitu dengan berteori.

Dengan demikian apa yang saat ini dikenal dengan istilah ontologi, adalah bentuk pemahaman atas kenyataan yang menghendaki pengetahuan murni yang bebas-kepentingan. Pengetahuan yang lahir dari refleksi ontologis adalah suatu disinterested knowladge. Kelahiran ontologi mengikis habis bios theoretikos karena teori tidak lagi memperoleh kepenuhan isinya dalam kehidupan, melainkan justru menarik diri dari kehidupan praktis manusia. Tanpa disadari, pemisahan kepentingan-kepentingan manusiawi ini merupakan pelaksanaan kepentingan sendiri, yaitu demi mencapai pengetahuan murni.

Dalam perkembangan berikutnya pembersihan teori dari kepentingan dilakukan melalui dua cara, disatu sisi — dengan Plato sebagai tokohnya —  mengutamakan kemampuan rasio, sedang disisi lain — dengan Aristoteles sebagai tokohnya — lebih mementingkan pengalaman empiris terhadap obyek pengetahuan.

Pada cara yang pertama, terdapat pemahaman bahwa pengetahuan murni dapat diperoleh melalui rasio manusia sendiri. Dalam hal ini — sebagaimana dikemukan oleh Plato — intuisi memainkan peranan yang penting.  Plato mengungkapkan, bahwa pengetahuan sejati adalah pengetahuan tunggal yang tidak berubah-ubah, yakni pengetahuan yang menangkap ide-ide.  Pengetahuan manusia bersifat a-priori, sudah melekat pada rasio itu sendiri, maka tugas manusia ”hanyalah” mengingat (menemukan) kembali apa yang terdapat secara a-priori dalam rasionya yaitu idea-idea. Untuk itu manusia harus terus menerus membersihkan pengetahuannya dari unsu-unsur yang berubah-ubah, agar dapat menembus hakekat kenyataan atau idea-idea.

Pada cara yang kedua, Aristoteles lebih mengutamakan peranan abstraksi untuk memperoleh pengetahuan sejati.  Baginya pengetahun sejati adalah hasil pengamatan empiris.  Pengetahuan bersifat a-posteriori, dengan demikian tugas manusia adalah mengamati unsur-unsur yang berubah-ubah dan melakukan abstraksi atas unsur-unsur tersebut, sehingga dari yang partikular diperoleh yang universal.

Hal ini muncul kembali dalam filsafat modern. Pada jalur pertama tampil aliran rasionalisme, yang dirintis oleh René Descartes, dan kemudian diikuti oleh Malebrache, Spinoza, Leibniz, dan Wolf.  Para pendukung aliran ini berpendapat bahwa pengetahuan sejati dapat diperoleh dalam rasio sendiri dan bersifat a-priori, yang teraplikasi dalam bentuk pernyataan logis dan matematis. Pengetahuan murni semacam ini disebut pengetahuan trensedental, karena mengatasi pengamatan empiris yang bersifat khusus dan berubah-ubah.  Pengetahuan manusia bersifat universal dan trans-historis.  Pada jalar lain tampil aliran empirisme yang didukung oleh para pemikir seperti Hobbes, Locke, Berkeley, dan Hume. Mereka beranggapan bahwa pengetahuan sejati dapat diperoleh hanya melalui pengamatan empiris dan karenanya bersifat a-posteriori. Teori ilmiah semacam ini dapat diperoleh melalui “evidensi pengamatan indrawi”. Meskipun kedua aliran tersebut menawarkan cara berbeda untuk memperoleh pengetahuan murni, akan tetapi keduanya sama-sama berkeyakinan bahwa teori murni hanya mungkin diperoleh dengan jalan membersihkan pengetahuan dari dorongan dan kepentingan manusia[19].

Upaya-upaya untuk melakukan pemisahan antara teori dengan praxis tersebut semakin mendapatkan bentuknya ketika Francis Bacon berupaya meninggalkan ilmu pengetahuan lama dan mengusahakan ilmu yang baru. Menurut pemikirannya, ilmu pengetahuan lama tidak sanggup memberikan kemajuan, tidak dapat memberikan hasil-hasil yang bermanfaat, serta tidak dapat melahirkan hal-hal baru yang berfaedah bagi kehidupan umat manusia.

Dengan slogannnya Knowledge is Power, Bacon menyatakan hanya melalui ilmulah, manusia akan dapat memperlihatkan kemampuan kodratinya. Menurut pemahaman Bacon, pengetahuan inderawi tidak dapat menguasai segalanya, namun pengetahuan inderawi bersifat fungsional, dapat dipergunakan untuk memajukan kehidupan manusia. Sedangkan “kuasa” dipahaminya sebagai kuasa atas alam (natura non nisi parendo vincitur artinya alam hanya dapat ditaklukkan dengan mematuhinya). Maksud Bacon, bahwa alam hanya bisa dikuasai oleh pikiran kalau pikiran dapat mematuhinya dengan cara memahami hukum-hukumnya, mempelajari sifat universalnya dan perkecualiannya. Dengan menaklukkan alam, Bacon sangat percaya umat manusia dapat sejahtera melalui ilmu pengetahuannya.

Menurut Bacon, hakikat pengetahuan yang sebenarnya adalah pengetahuan yang diterima orang melalui persentuhan indrawi dengan dunia fakta. Persentuhan ini biasanya disebut pengalaman. Bacon berpendapat, pengalaman dari hasil pengamatan yang bersifat partikular akan menemukan pengetahuan yang benar, dan oleh karena itu ia yakin bahwa pengalaman adalah sumber pengetahuan sejati.

Untuk memperoleh pengetahuan yang benar, menurut Bacon haruslah dilakukan dengan cara-cara benar, yaitu: (1) Alam diwawancarai; (2) Menggunakan metode yang benar, dan; (3) Bersikap pasif terhadap bahan-bahan yang disajikan alam, artinya orang harus menghindarkan dirinya untuk mengemukakan prasangka terlebih dahulu. Hal ini dipandang perlu, untuk mencegah timbulnya gambaran-gambaran yang keliru.
Tiga tahapan untuk memperoleh pengetahuan di atas harus dilakukan secara sistematis, dimulai dengan mengamati (mewawancarai) alam semesta tanpa prasangka, kemudian menetapkan fakta berdasarkan percobaan berkali-kali dengan cara yang bervariasi. Setelah fakta-fakta ditetapkan, kemudian fakta tersebut diikhtisarkan. Tahap selanjutnya dari proses pengenalan fakta adalah pengenalan hukum-nya, menemukan bentuk universal dari sifat-sifatnya yang partikular. Lalu disusun kembali sehingga menemukan pengetahuan benar.

Berdasarkan pemikirannya tersebut, Bacon merumuskan dasar-dasar berpikir induktif modern. Menurutnya, metode induksi yang tepat adalah induksi yang bertitik pangkal pada pemeriksaan yang teliti dan telaten mengenai data-data partikular, yang pada tahap selanjutnya rasio dapat bergerak maju menuju penafsiran terhadap alam (interpretatio natura). Untuk mencari dan menemukan kebenaran dengan metode induksi, Bacon mengemukakan ada dua cara yang harus dilakukan, yaitu:

  1. Rasio yang digunakan harus mengacu pada pengamatan inderawi yang partikular, kemudian mengungkapnya secara umum.
  2. Rasio yang berpangkal pada pengamatan inderawi yang partikular digunakan untuk merumuskan ungkapan umum yang terdekat dan masih dalam jangkauan pengamatan itu sendiri, kemudian secara bertahap mengungkap yang lebih umum di luar pengamatan.

Untuk menghindari penggunaan metode induksi yang keliru, Bacon menyarankan agar menghindari empat macam idola atau rintangan dalam berpikir, yaitu:

  1. Idola tribus (tribus = bangsa) yaitu prasangka yang dihasilkan oleh pesona atas keajegan tatanan alamiah sehingga seringkali orang tidak mampu memandang alam secara obyektif. Idola ini menawan pikiran orang banyak, sehingga menjadi prasangka yang kolektif.
  2. Idola cave (cave/specus = gua), maksudnya pengalaman dan minat pribadi kita sendiri mengarahkan cara kita melihat dunia, sehingga dunia obyektif dikaburkan.
  3. Idola fora (forum = pasar) adalah yang paling berbahaya. Acuannya adalah pendapat orang yang diterimanya begitu saja sehingga mengarahkan keyakinan dan penilaiannya yang tidak teruji.
  4. Idola theatra (theatra = panggung). Dengan konsep ini, sistem filsafat tradisional adalah kenyataan subyektif dari para filosofnya. Sistem ini dipentaskan, dan setelah itu seketika dianggap selesai (tamat) seperti sebuah teater.

Apabila seorang ilmuan sudah bisa melepaskan diri dari semua idola itu, mereka sudah dipandang mampu untuk melakukan penafsiran atas alam melalui induksi secara tepat. Induksi tidak boleh berhenti pada taraf laporan semata, karena ciri khas induksi ialah menemukan dasar inti (formale) yang melampaui data-data partikular, berapapun besar jumlahnya. Dalam hal ini, pertama yang perlu dikumpulkan data heterogen tentang sesuatu hal. Kemudian urutannya akan nampak dengan jelas, yang paling awal adalah peristiwa konkrit partikular yang sebenarnya terjadi (menyangkut proses atau kausa efisien), kemudian suatu hal yang lebih umum sifatnya (menyangkut skema, atau kausa materialnya), baru akan ditemukan dasar inti. Dalam hal dasar inti ini, pertama-tama ditemukan dasar inti yang masih bersifat partikular, yang keabsahannya perlu diperiksa secara deduksi. Jika yang ini sudah cukup handal, barulah boleh terus maju menemukan dasar inti yang semakin umum dan luas. Bagi Bacon, begitulah langkah-langkah induksi yang tepat.

Berdasarkan uraian di atas, Bacon memberikan ketegasan bahwa induksi adalah menarik kesimpulan umum dari hasil-hasil pengamatan yang bersifat khusus. Induksi bukanlah penjumlahan belaka dari data-data khusus. Jika hal tersebut dilakukan, induksi itulah yang dianggap menyesatkan, sebab hanyalah generalisasi yang gegabah. Agar induksi mencapai kesimpulan obyektif yang bersih dari idola-idola, diperlukan “contoh-contoh negatif”. Menurut Bacon, induksi yang berhasil harus ada gerak bolak-balik dari data khusus ke kesimpulan umum. Dalam gerak itu, observasi dan analisis menduduki tempat yang sangat penting. Pengetahuan empiris-analitis dari Bacon sebagaimana terdeskripsi di ataslah, yang kemudian menjadikan ilmu-ilmu alam direfleksikan secara filosofis sebagai pengetahuan yang sahih tentang kenyataan.

Puncak pembersihan pengetahuan dari kepentingan terjadi dengan lahirnya madzhab positivisme yang dirintis oleh Auguste Comté.  Filsafat Comte adalah filsafat anti-metafisis. Ia hanya menerima fakta-fakta yang ditemukan secara positif-ilmiah. Positivisme klasik hanya mengakui tentang gejala-gejala (fenomen-fenomen), sehingga tidak ada gunanya mencari hakikat kenyataan yang tidak mempunyai arti faktual sama sekali. “Savoir pour prevoir, prevoir pour pouvoir” (dari ilmu muncul prediksi, dan dari prediksi muncul aksi), semboyan inilah yang menjadi pamungkas semakin terpilah dan terpisahnya ilmu pengetahuan dari nilai, dan kemudian menempatkan positivisme sebagai pemenang dalam wacana pemikiran modern.  Oleh karena itu, manusia harus menyelidiki gejala-gejala dan hubungan-hubungan antara fenomena-fenomena fisik-faktual tersebut sehingga ia dapat memproyeksikan tentang apa yang akan terjadi di masa depan. Hubungan-hubungan antara gejala-gejala itu disebut oleh Comte dengan konsep-konsep atau hukum-hukum positif yang dapat dipersepsi oleh akal pikiran manusia[20].

Hal ini sejalan dengan Mach yang menyatakan bahwa pengetahuan yang sahih tentang kenyataan adalah pengetahuan yang diperoleh dengan cara “menyalin fakta”,[21] dan fakta adalah kenyataan yang dapat diraba atau diindra.  Maka prosedur yang dapat dbenarkan adalah prosedur ilmu-ilmu alam, sebab ilmu-ilmu alam itu objektif.  Dengan prosedur ini, pengetahun diperoleh dengan melakukan mimesis fakta[22]

Positivisme menjadi lokomotif penggerak sejarah pemikiran barat modern, setelah ambruknya tatanan dunia dan nilai-nilai masyarakat abad pertengahan. Tawaran baru dari positivisme adalah tentang metode ilmu pengetahuan, yang sangat menitikberatkan metodologi dalam refleksi filsafatannya. Bila dalam empirisme dan rasionalisme pengetahuan masih direfleksikan, dalam positivistisme pengetahuan diganti metodologi, dan satu-satunya metodologi yang berkembang secara meyakinkan sejak renaissance, dan subur pada masa Aufklärung adalah metode ilmu-ilmu alam. Oleh karena itu, positivisme menempatkan metodologi ilmu-ilmu alam pada ruang yang dulunya menjadi refleksi epistemologi, yaitu pengetahuan manusia tentang kenyataan.

Zaman Renaissance adalah zaman yang didukung oleh cita-cita untuk melahirkan kembali manusia yang bebas, yang telah dibelenggu oleh zaman abad tengah yang dikuasai oleh Gereja atau agama. Manusia bebas ala Renaissance adalah manusia yang tidak mau lagi terikat oleh orotitas yang manalun (tradisi, sistem gereja, dan lain sebagainya), kecuali otoritas yang ada pada masing-masing diri pribadi. Manusia bebas ala Renaissance itu kemudian “didewasakan” oleh zaman Aufklärung, yang ternyata telah melahirkan sikap mental menusia yang percaya akan kemampuan diri sendiri atas dasar rasionalitas, dan sangat optimis untuk dapat menguasai masa depannya, sehingga manusia (Barat) menjadi kreatif dan inovatif. Ada daya dorong yang mempengaruhi perkembangan ilmu dan teknologi yaitu pandangan untuk menguasai alam. Tiada hari tanpa hasil kreasi dan inovasi. Semenjak itulah dunia Barat telah melakukan tinggal landas mengarungi angkasa ilmu pengetahuan yang tiada bertepi untuk menaklukkan dan menguasai alam demi kepentingan “kesejahteraan hidupnya”. Hasilnya adalah teknologi supra-modern yang mereka miliki, sebagaimana dapat dilihat sekarang ini[23]

Didalam menerapkan metode ilmu-ilmu alam dalam ilmu-ilmu sosial ini, postivisme mendasarkan pada  pengandaian dasar dalam ilmu-ilmu alam yaitu: pertama : seorang ahli fisika, biologi atau kimia mengamati obyek yang ditelitinya dengan sikap berjarak, menghadapi obyek yang ditelitinya sebagai obyek semata. Peneliti mengambil sikap distansi penuh; kedua, dengan distansi penuh, ia harus menghadapi objeknya itu sebagai ”fakta netral”, yaitu data yang bersih dari unsur-unsur subjektifnya seperti, keinginan-keinginan,  mimpi, nafsu, penilaian-penilain, moral, dan lain sebagainya; dengan jalan itu, ketiga,  ia dapat memanipulasi objeknya dalam eksperimen untuk menemukan pengetahuan menurut model ”sebab-akibat”; keempat, hasil manipulasi adalah sebuah pengetahuan tentang hukum-hukum yang niscaya berdasarkan rumusan deduktif-nomologis (bila ….., maka…..); kelima, teori yang dihasilkan merupakan sebuah pengetahuan yang bebas dari kepentingan (disinterested) dapat diterapkan secara instrumental secara universal.[24]

Berbagai pengandaian itulah (distansi penuh, netralitas, manipulasi, hukum-hukum, bebas kepentingan, universalitas, dan instrumentalis), yang kemudian oleh positivisme diterapkan pada penelitian-penelitian sosial, hanya saja obyeknya bukan lagi benda mati (alam) atau binatang, melainkan kenyataan sosial. Ilmu-ilmu sosial yang dihasilkan, diyakini sebagai potret tentang fakta sosial yang biasa dikenal dengan istilah ”bebas nilai” (value-free), yaitu tak mengandung interprestasi subjektif dari penelitinya. Siapa pun dia — asal memenuhi prosedur-prosedur penelitian yang telah disepakati — tak akan mempengaruhi pengetahuan yang dihasilkan, sehingga pengetahuan  itu dapat dipakai secara instrumental oleh siapa saja, karena bersiat universal dan instrumental. Dengan mengkuantifikasi data dan mencapai perumusan dedukti-nomologis, ilmu-ilmu sosial lalu bertujuan untuk meramalkan dan mengendalikan proses-proses sosial, hal ini terlihat dari apa yang dikemukakan oleh Comte: ”savoir pour prevoir” (mengetahui untuk meramalkan). Dengan cara itu, ilmu-ilmu sosial dapat membantu menciptakan susunan masyarakat yang rasional

Hal ini merupakan awal memperoleh pengetahuan demi pengetahuan, yaitu teori yang dipisahkan dari praksis kehidupan manusia. Positivisme — dengan menyingkirkan pengetahuan yang melampaui fakta — telah mengakhiri riwayat ontologi atau metafisika, karena ontologi menelaah apa yang melampaui fakta inderawi, namun demikian positivisme tidak dapat sepenuhnya melepaskan diri dari ontologi, hal ini tampak pada teori yang dianut, yaitu teori yang bebas dari kepentingan-kepentingan manusiawi. Dalam filsafat abad ke-20 pemikiran positivistis tampil dalam Lingkungan Wina, yang dikenal dengan nama Positivisme logis, empirisme logis atau neo-positivisme, dengan beberapa gagasan pokok, yaitu (1) menolak pembedaan ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial, (2) menganggap pernyataan-pernyataan yang tidak dapat diverifikasikan, seperti etika, estetika, dan metafisika sebagai pernyataan-pernyataan yang tidak berguna atau nonsense, (3) berusaha mempersatukan semua ilmu pengetahuan di dalam satu bahasa ilmiah yang universal, dan (4) memandang tugas filsafat sebagai analisis atas kata-kata atau pernyataan-pernyataan[25]

Kaum positivisme logis itu sendiri, menolak filsafat yang tidak menghiraukan kenyataan dan susunan serta hasil ilmu pengetahuan empiris. Mereka menganggap, bahwa satu-satunya sumber pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang telah diatur, dan dirumuskan dalam kaidah-kaidah ilmu alam, dan diperoleh dari pengamatan inderawi, serta dapat diperiksa secara empiris.

Positivisme logis, menempatkan filsafat ilmu pengetahuan sebagai logika ilmu. Pandangan semacam itu menguasai dan diterima luas oleh para filsuf ilmu pengetahuan pada zaman itu. Sebagai tradisi intelektual yang berakar pada ilmu pengetahuan alam kodrati (natural sciences), pesatnya perkembangan kelompok yang lazim juga dinamakan empirisme neo-klasik ini disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain karena memang kesan baik yang diberikan oleh ilmu fisika sebagai disiplin ilmu yang prestisius dengan teknik-teknik penelitian yang impresif, di samping itu juga disebabkan oleh adanya orang-orang besar dan terhormat dalam bidang ilmu pengetahuan yang terdapat dalam kelompok ini seperti Albert Einstein[26].

Berdasarkan kronologi sejarahnya, positivisme logis muncul pertama kali sebagai suatu logika bagi ilmu-ilmu fisika. Tahun 1895, Ernst March menjabat sebagai guru besar pertama filsafat ilmu-ilmu induksi di Universitas Wina, dan pada tahun 1922, posisi itu digantikan oleh Moritz Schlick, seorang murid dari Max Planck yang pada saat itu ia memusatkan karyanya pada filsafat fisika. Kemudian pada tahun 1929, kelompok ini menerbitkan sebuah manifesto yang berisi tentang tujuan perkumpulan itu dan memberinya nama: “A Scientific Conception of the World: The Vienna Circle” (Suatu Konsepsi Ilmiah Tentang Dunia: Lingkaran Wina)[27]. Para anggota yang ikut bergabung dalam kelompok ini adalah, para kaum positivis yang kebanyakan adalah ahli ilmu alam, matematikus dan filsuf berlatar belakang matematika.  Inti pandangan mereka terletak pada keyakinan, bahwa setiap pernyataan mengikuti ketentuan logika formal, dan bahwa pernyataan itu harus bersifat ilmiah.

Aliran Positivisme logis membagi pengetahuan hanya terbatas kepada ilmu matematika (ilmu pasti), dan ilmu-ilmu lain yang diperoleh dari gejala-gejala yang dapat diamati oleh indera. Pengetahuan semacam ini yang disebutnya sebagai pengetahuan positif, artinya dapat dinyatakan atau dibuktikan (verifiable-positive knowledge). Seperti halnya dengan Bacon, yang mendeskripsikan semua pengetahuan atas dasar pengalaman dan pengamatan inderawi, kalangan positivisme logis menolak persoalan sebab-sebab terakhir (final causes) yang menjadi pokok perdebatan filsafat klasik, terutama mengenai sebab pertama (first cause), sehingga mengakibatkan pembicaraan tentang Tuhan pun sama sekali tertolak[28].  Dengan demikian, pandangan ontologi aliran ini menentang segala bentuk pikiran, yang menyatakan adanya suatu dunia yang bersifat adi-alami atau transendental[29].

Bagi aliran ini, persoalan-persoalan ilmiah harus dipecahkan secara lebih tepat dan sistematis dengan menggunakan teknik-teknik logika matematika, sebab mereka menganggap bahwa ilmu formal (matematika, logika) bukan sebagai pengetahuan yang berhubungan dengan sesuatu di luar bahasa (kenyataan). Ilmu pengetahuan sendiri dirumuskan dan diuraikan sebagai kalkulasi aksiomatis, yang memberikan perangkat-perangkat hukum pada interpretasi terhadap observasi yang terbatas.

Positivisme logis bertitik tolak dari data empiris dan tetap setia pada sifatnya yang empiristis dengan menganggap hukum-hukum logis sebagai hubungan antara istilah-istilah, hasil pengamatan dan fakta yang dinyatakan dengan memakai ungkapan dasar dalam suatu ilmu yang bercorak empiris atau—dalam pengertian Rudolf Carnap—“kalimat protokol”. Ilmu formal sama sekali tidak menyinggung tentang bukti dan data empirik (kenyataan), tetapi hanya menampilkan jalinan hubungan antara lambang-lambang logiko-matematis yang membuka kemungkinan pemakaian data observasi yang telah diperoleh untuk menghitung (menyusun penjabaran logis dan deduksi)[30].

Positivisme sebagai sebuah pandangan filsafat mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terjadi berdasarkan hukum-hukum dapat dibuktikan dengan teknik observasi, eksperimen dan verifikasi[31].

Menurut Positivisme logis, hanya apa yang nampak jelas dan berguna saja yang secara prinsipil bisa diverifikasi melalui observasi dan eksperimentasi. Persoalan tentang nilai sebuah teori atau makna suatu penjelasan, dianggapnya tidak berarti apa-apa karena tidak memberikan jawaban yang pasti dan terukur[32].

Prinsip verifikasi sebagai sentral dalam doktrin positivisme logis menegaskan bahwa, suatu ungkapan baru akan mempunyai makna, manakala ia menunjuk pada pengalaman langsung dan konkrit. Dan bahasa figuratif atau kiasan juga hanya akan dianggap mempunyai makna, apabila diterjemahkan ke dalam bahasa literal hurufiah. Positivisme logis menggabungkan argumen epistemologis dengan argumen semantik, Mereka yakin pula bahwa, filsafat hanya bisa maju jika menggunakan bahasa lugas literal murni. Imbasnya lantas timbul keyakinan umum yang semakin kuat bahwa, dalam dunia kebahasaan manusia sebetulnya yang berperan besar adalah memang bahasa literal itu sendiri[33].

Pemahaman dan penerapan prinsip-prinsip dasar positivisme, demikian mendominasi perkambangan ilmu-ilmu sosial di era modern.  Eksplorasi dan pengembangan aspek epistemologi yang harus digunakan untuk memperoleh pengetahuan sejati, menjadi titik sentral refleksi filosofisnya, yang justru kemudian menggeser kedudukan pengetahuan. Manusia baru dapat menjadi rasional dan dewasa, apabila segala mitos, agama dan filsafat abstrak metafisik, diganti oleh ilmu pengetahuan[34]. Dalam konteks yang demikian postivisme yang bertumpu pada aspek epistemologi telah merubah wujudnya menjadi saintisme[35].

Optimisme terhadap sains modern ini antara lain terlihat dari pendapat Marquis de Condorcet, yang menyatakan bahwa penyebaran kekuatan-kekuatan rasional dalam masyarakat akan membawa suatu kemajuan yang tidak sekedar pertumbuhan ekonomi, dan pembangunan materi, namun terutama terwujudnya tujuan (telos) sejarah, yaitu kesempurnaan tak terbatas umat manusia yang juga bersiat etis.  Condorcet memprediksi, bahwa rasio yang terwujud dalam sains akan menghancurkan ketimpangan-ketimpangan kultural, politis, dan ekonomis diantara bangsa, menyempurnakan kemampuan manusia, mewujudkan kebahagiaan pribadi, dan kesejahteraan umum, menyingkirkan diskriminasi rasial dan seksual, serta menghapus perang dimuka bumi[36].

Hal ini dapat direalisasi, karena watak sains modern adalah “netral”, yaitu tidak berprasangka, tidak memberikan penilaian baik atau buruk, dan bebas dari kepentingan-kepentingan manusiawi. Watak-watak objektivistis semacam ini, secara meyakinkan melekat pada ilmu-ilmu alam, dan secara tegas dibedakan dengan etika, yang justru berciri preskriptif, personal dan menilai tindakan.  Dengan watak-watak macam ini, sains merupakan pembawa nilai-nilai modern yang paling mendasar dikalangan komunitas ilmiah, seperti sikap toleran, tak memihak, rasional dan demokratis, karena penelitian ilmiah bagaimanapun meyakini  adanya kebenaran objektif  yang tidak tergantung pada perspektif, dan autoritas subjektif.  Anggapan bahwa sains dapat menjadi juru selamat sebagai terdeskripsi di atas, mengandaikan, bahwa nilai-nilai yang dianut komunitas ilmiah yang terbatas itu, dapat menjadi sumber autoritatif bagi masyarakat luas. Asumsi inilah yang kemudian oleh Tom Sorrel disebut saintisme, atau menjelma menjadi ideologi sebagaimana dikemukan oleh Herbert Marcuse[37]

Berubahnya positivisme menjadi saintisme, berawal bergesernya pendulum epistemologi, dari subjek (yang dipergunakan oleh Renĕ Descrates sebagai tokoh aliran rasionalisme)[38], menjadi objek[39].  Perubahan ini bukan hanya sekedar pergeseran tekanan yang masih menerima subjek, melainkan justru menghapus subjek, dan pada akhirnya justru menyudahi  epistemologi sendiri.  Apa yang kemudian lahir dari krisis epistemologi ini adalah filsafat ilmu pengetahuan (philosophy sciene), yang memusatkan diri pada penelitian tentang “metodologi”.  Dalam dunia intelektual, hal inilah yang kemudian melahirkan objektivisme.  Objektivisme bukan hanya tidak mengakui peranan subjek (yang berarti subjek hanya menyalin fakta objektif), melainkan juga mengosongkan apa-apa saja dalam diri subjek sedemikian rupa sehingga menjadi fungsi-fungsi objektif dan mekanis.  Kondisi ini tidak hanya mereduksi manusia ke matra objektifnya, tetapi — karena terjadi fragmentasi ilmu-ilmu[40] — terjadi juga fragmentasi kenyataan, yang pada gilirannya menyebabkan fragmentasi pandangan tentang manusia[41].

Menurut Herbert Marcuse teknologi dan ilmu pengetahuan bukan lagi dipandang sebagai salah satu teori tentang pengetahuan, akan tetapi telah berubah menjadi cara berfikir masyarakat (yaitu cara berpikir yang positif), sekaligus merubah kesadaran masyarakat menjadi kesadaran teknokratik (technocratic conciousness). Kesadaran teknokratik telah mendominasi kehidupan manusia sehingga manusia diarahkan dan ditentukan oleh dominasi ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan demikian Ilmu pengetahuan dan teknologi telah menjadi ideologi, karena telah menjelma menjadi sistem total yang melegitimasi masyarakat dan keadaannya. Ilmu ditempatkan sebagai satu-satunya penafsir realitas dan kebenaran, dan menjadi sistem pandangan dunia yang menyeluruh.

ETIKA

Etika berasal dari bahasa Yunani, yaitu ethos yang memiliki pengertian adat istiadat (kebiasaan), perasaan batin serta kecenderungan batin untuk melakukan sesuatu. Di dalam Kamus Istilah Pendidikan dan Umum dinyatakan bahwa etika adalah bagian dari filsafat yang mengajarkan tentang keluhuran budi (baik/buruk)[42].5

Dalam pemakaain sehari-hari, etika dapat dibedakan dalam tiga arti: (1) etika sebagai sistem nilai. Etika disini diartikan sebagai nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan hidup atau sebagai pedoman penilaian baik-buruknya perilaku manusia, baik secara individual maupun social dalam suatu masyarakat; (2) etika sebagai kode etik. Etika diartikan sebagai kumpulan norma dan nilai-nilai moral yang wajib diperhatikan oleh pemegang profesi tertentu; (3) etika sebagai ilmu. Etika diartikan sebagai ilmu yang melakukan refleksi kritis dan sistematis tentang moralitas.  Etika dalam arti ini sama dengan filsafat moral. Secara etimologis kata etika sebenarnya sama dengan kata moral. Kata moral berasal dari akar kata latin mos moris yang sama dengan etika dalam bahasa Yunani, yang berarti adat kebiasaan. Sebagai istilah, keduanya kadang dibedakan, istilah etika dipakai untuk menyebutkan ilmu dna prinsip-prinsip dasar penilaian baik dan buruk perilaku manusia, sedangkan moral untuk menyebutkan aturan dan norma yang lebih kongkrit, bagi penilaian baik-buruknya perilaku manusian

Etika pada dasarnya merupakan penerapan dari nilai tentang baik buruk yang berfungsi sebagai norma atau kaedah tingkah laku dalam hubungannya dengan orang lain, sebagai espektasi atau apa yang diharapkan oleh masyarakat terhadap seseorang sesuai dengan status dan peranannya, dan etika dapat berfungsi sebagai penuntun pada setiap orang dalam mengadakan kontrol sosial.

Etika menilai perbuatan manusia, maka lebih tepat kalu dikatakan bahwa objek formal etika adalah norma-norma kesusilaan manusia, dan dapat diakatakan pula bahwa etika mempelajari tingkah laku manusia ditinjau dari segi baik dan tidak baik dalam suatu kondisi yang normatif (pelibatan norma). Sebagai sebuah kajian atau pemikiran sistematis, kritis dan mendasar tentang moralitas, etika berbeda dengan moral. Yang dihasilkan etika bukanlah kebaikan, melainkan suatu pengertian yang lebih mendasar dan kritis. Salah-satu tujuan etika adalah membantu kita mencari orientasi, agar kita tidak hanya ikut-ikutan saja terhadap berbagai pihak yang mau menetapkan bagaimana kita harus hidup. Karenanya, dengan etika diharapkan kita dengan sadar melakukan segala hal perbuatan dan tatacara hidup. Sehingga kita lebih mampu mempertanggungjawabkan kehidupan kita.

Etika adalah pembahasan mengenai baik (good), buruk (bad), semestinya (ought to), benar (right), dan salah (wrong). Yang paling menonjol adalah tentang baik atau good dan teori tentang kewajiban (obligation). Keduanya bertalian dengan hati nurani. Bernaung di bawah filsafat moral . Etika merupakan tatanan konsep yang melahirkan kewajiban itu, dengan argumen bahwa kalau sesuatu tidak dijalankan berarti akan mendatangkan bencana atau keburukan bagi manusia. Oleh karena itu, etika pada dasarnya adalah seperangkat kewajiban-kewajiban tentang kebaikan (good) yang pelaksananya (executor) tidak ditunjuk. Executor-nya menjadi jelas ketika sang subyek berhadap opsi baik atau buruk—yang baik itulah materi kewajiban ekskutor dalam situasi ini.

Peranan moral akan sangat kentara ketika perkembangan ilmu terjadi pada saat tahap peralihan dari kontemplasi ke tahap manipulasi. Pada tahap kontemplasi, masalah moral berkaitan dengan metafisik keilmuan, sedangkan pada tahap manipulasi masalah moral berkaitan dengan cara penggunaan pengetahuan ilmiah itu sendiri. Dengan kata lain ketika ilmu dihadapkan pada kenyataan, maka yang dibicarakan adakah tentang aksiologi keilmuan.

Sebelum menentukan sejauhmana peran moral dalam penggunaan ilmu atau teknologi, ada dua kelompok yang memandang hubungan antara ilmu dan moral. Kelompok pertama, memandang bahwa ilmu itu harus bersifat netral, bebas dari nilai-nilai ontologi dan aksiologi. Dalam hal ini, fungsi ilmuwan adalah menemukan pengetahuan selanjutnya terserah kepada orang lain untuk mempergunakan untuk tujuan baik atau buruk. Kelompok pertama ini ingin melanjutkan tradisi kenetralannya secara total seperti pada waktu Galileo. Kelompok kedua, berpendapat bahwa kenetralan terhadap nilai hanyalah terbatas pada metafisik keilmuan, sedangkan dalam penggunaannya, bahkan pemilihan obyek penelitian, kegiatan keilmuan harus berlandaskan asas-asas moral. Hal ini ditegaskan oleh Charles Darwin bahwa kesadaran kita akan moral dalam penggunakan ilmu kita sejogyanya menggunakan pikiran kita .
Analisa perkembangan selanjutnya dengan apa yang sudah terjadi, kelompok yang mengedepankan nilai moral mengkhawatrirkan terjadinya de-humanisasi, di mana martabat manusia menjadi lebih rendah, manusia akan dijadikan obyek aplikasi teknologi kelimuan. Hal ini berkaitan peristiwa yang terjadi selama ini, yaitu : (1) Secara faktual telah dipergunakan secara destruktif oleh manusia yang dibuktikan dengan adanya Perang Dunia II. (2) Ilmu telah berkembang dengan pesat dan sangat esoterik (hanya diketahui oleh orang-orang tertentu saja) sehingga kaum ilmuwan lebih mengetahui ekses-ekses yang mungkin terjadi bila terjadi penyalahgunaan. (3) Ilmu telah berkembang sedemikian rupa dimana terdapat kemungkinan bahwa ilmu dapat mengubah manusia dan kemanusiaannya yang paling hakiki seperti pada revolusi genetika dan teknik perubahan sosial.

Persoalan baru yang muncul saat menerapkan nilai moral ialah konflik yang menimbulkan dilema nurani mana yang baik, benar, yang mana yang tidak dan mana yang selayaknya. Disinilah, etika memainkan peranannya, etika berkaitan dengan “apa yang seharusnya” atau terkait dengan apa yang baik dan tidak baik untuk kita lakukan serta apa yang salah dan apa yang benar. Menurut J.Osdar, oleh filsuf Yunani kuno, Aristoteles, kata etika dipakai untuk menunjukkan filsafat moral. Kata moral punya arti sama dengan kosakata etika. Kata moral berasal dari bahasa Latin, yakni mos (jamaknya mores). Artinya kebiasaan, adat. Di sini kata moral dan etika punya arti sama.
Dari pemahaman tersebut, maka etika menjadi acuan atau panduan bagi ilmu dalam realisasi pengembangannya. Untuk mengatasi konflik batin dikemukakan teori-teori etika yang bermaksud untuk menyediakan konsistensi dan koheren dalam mengambil keputusan–keputusan moral. Teori–teori etika tersebut adalah :

  1. Konsekuensialisme. Teori ini menjawab “apa yang harus kita lakukan”, dengan memandang konsekuensi dari bebagai jawaban. Ini berarti bahwa yang harus dianggap etis adalah konsekuensi yang membawa paling banyak hal yang menguntungkan, melebihi segala hal merugikan, atau yang mengakibatkan kebaikan terbesar bagi jumlah orang terbesar. Manfaat paling besar daru teori ini adalah bahwa teori ini sangat memperhatikan dampak aktual sebuah keputusan tertentu dan memperhatikan bagaimana orang terpengaruh. Kelemahan dari teori ini bahwa lingkungan tidak menyediakan standar untuk mengukur hasilnya.
  2. Deontologi, berasal dari kata Yunani deon yang berarti “kewajiban”. Teori ini menganut bahwa kewajiban dalam menentukan apakah tindakannya bersifat etis atau tidak, dijawab dengan kewajiban-kewajiban moral. Suatu perbuatan bersifat etis, bila memenuhi kewajiban atau berpegang pada tanggungjawab, Jadi yang paling penting adalah kewajiban-kewajiban atau aturan-aturan, karena hanya dengan memperhatikan segi-segi moralitas ini dipastikan tidak akan menyalahkan moral. Manfaat paling besar yang dibawakan oleh etika deontologis adalah kejelasan dan kepastian. Problem terbesar adalah bahwa deontologi tidak peka terhadap konsekuensi-konsekuensi perbuatan. Dengan hanya berfokus pada kewajiban, barangkali orang tidak melihat beberapa aspek penting sebuah problem.
  3. Etika Hak. Teori ini memandang dengan menentukan hak dan tuntutan moral yang ada didalamnya, selanjutnya dilema-dilema ini dipecahkan dengan hirarkhi hak. Yang penting dalam hal ini adalah tuntutan moral seseorang yaitu haknya ditanggapi dengan sungguh-sungguh. Teori hak ini pantas dihargai terutama karena terkanannya pada nilai moral seorang manusia dan tuntutan moralnya dalam suatu situasi konflik etis. Selain itu teori ini juga menjelaskan bagiaman konflik hak antar individu. Teori ini menempatkan hak individu dalam pusat perhatian yang menerangkan bagaimana memecahklan konflik hak yang bisa timbul.
  4. Intuisionisme, teori ini berusaha memecahkan dilema-dilema etis dengan berpijak pada intuisi, yaitu kemungkinan yang dimiliki seseorang untuk mengetahui secara langsung apakah sesuatu baik atau buruk. Dengan demikian seorang intuisionis mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk berdasarkan perasaan moralnya, bukan berdasarkan situasi, kewajiban atau hak. Dengan intuisi kita dapat meramalkan kemungkinan-kemunginan yang terjadi tetapi kita tidak dapat mempertanggungjawabkan keputusan tersebut karena kita tidak dapat menjelaskan proses pengambilan keputusan.

Etika menjadi acuan bagi pengembangan ilmu pengetahuan karena penghormatan atas manusia. Sebagaimana dikemukakan, oleh Imanuel Kant, penghormatan kepada martabat manusia adalah suatu keharusan karena manusia adalah satu-satunya makhluk yang merupakan tujuan pada dirinya, tidak boleh ditaklukkan untuk tujuan lain.

DARI ONTOLOGI KE AKSIOLOGI : PERGESERAN  RELASI ANTARA ILMU DAN ETIKA

Ilmu pengetahuan dan teknolgi yang dihasilkan dibawah naungan madzhab positivistik —- melalui berbagai asumsi, postulat dan konstruk yang dijadikan sebagai bangunan konsepsional dan filsafatinya —, tidaklag dapat dipungkiti, telah memberikan berbagai kontribusi positif dalam hidup dan kehidupan manusia. Di bawah terang pengetahuan bebas nilai, demi memperoleh pengetahuan objektif tentang kenyataan sosial atau “fakta sosial”,  para ilmuwan dapat mengekplorasi berbagai fenomena tanpa harus terikat dengan perasaan, harapan, keinginan, anggapan, penilaian moralnya.

Pemahaman yang demikian disatu sisi, telah menyebabkan ilmu pengetahuan memberikan berbagai kontribusi positif dalam hidup dan kehidupan manusia.  Akan tetapi di sisi lain, tidak dapat dipungkiri munculnya ekses-ekses negatif dari ilmu penetahuan dan teknologi yang dihasilkan berdasarkan madzhab ini yaitu: dehumanisasi, degradasi eksistensi kemanusiaan, dan pengrusakan lingkungan hidup.  Sejarah perjalanan manusia dan kemanusiaan mencatat bahwa Perang Dunia I dan II merupakan ajang pemanfaatan hasil temuan-temuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Banyaknya korban manusia sebagai akibat bom atom yang dijatuhkan di Hirosima dan Nagasaki, Jepang, ataupun  Afganistan yang menjadi ajang ujicoba penemuan mutakhir teknologi perang buatan Amerika Serikat dan Uni Soviet, memunculkan penilain tentang pengaruh destruktif dari pemanfaatan teknologi.

Pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bebas nilai ini pun kemudian menjadi salah satu penyebab terjadinya kerusakan atau kehancuran ekologi, seperti: kontaminasi air, udara, tanah, dampak rumah kaca, kepunahan spesies tumbuhan dan hewan, pengrusakan hutan, akumulasi limba-limba toksik, penipisan laporan ozon pada atmosfir bumi, kerusakan ekosistem lingkungan hidup, dan lain-lain.

Pada akhirnya ilmuan memang tiba pada opsi-opsi: apakah ilmu pengetahuan netral dari segala nilai atau justru batas petualangan dan prospek pengembangan ilmu pengetahuan tidak boleh mengingkari suatu nilai, seperti nilai moral, religius, dan ideologi. Ilmu pengetahuan sudah sangat jauh tumbuh dan berkembang untuk dirinya sendiri, sementara teknologi atau ilmu pengetahuan terapan lain terus bergulir mengikuti logika dan perspektifnya sendiri (dalam hal ini tak ada nilai-nilai lain yang diizinkan memberikan kontribusi). Kecemasan tertinggi di tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terjadi ketika ilmu kedokteran berhasil menyelesaikan proyek eksperimennya mengembangkan janin dengan metode yang disebut “bayi tabung”.
Lalu kemudian ternyata masih ada yang lebih mutakhir dari pada “bayi tabung” itu, yakni suksesnya para ilmuan meneukan dan mengembangkan sel punca sebagai bagian dari eksperimen kloningnya. Yang terakhir ini mengubah hakikat manusia secara dramatis; ilmu pengetahuan yang diciptakan oleh manusia mampu menciptakan manusia juga. Bahkan, ilmu pengetahuan yang diproyeksi untuk membantu dan memudahkan manusia mencapai tujuan-tujuan hidupnya, justru berkembang dimana ilmu pengetahuan dan atau teknologi itu sendiri mengkreasikan tujuan-tujuan hidup itu sendiri.

Kondisi diatas untuk selanjutnya memunculkan pertanyaan etis dari sebagian kalangan tentang untuk apa sebenarnya ilmu harus dipergunakan? Dimanakah batas ilmu harusnya berkembang? Pertanyaan-pertanyaan beraroma etis tersebut menjadi relevan diajukan karena bagaimanapun ide dasar penerapan hasil-hasil ilmu pengetahuan seharusnya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan dan penghidupan manusia. Manusia memiliki ekspektasi besar terhadap ilmu pengetahuan agar dapat membantu dan memudahkan mereka mencapai tujuan-tujuan hidupnya. Hanya saja di titik tertentu, keinginan tersebut acapkali tidak teraih, karena ilmu pengetahuan justru terbiaskan, menjadi sumber kehancuran dan malapetaka bagi alam dan manusia.

Bila demikian keadaanyya, apakah ini berarti bahwa gerak perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebaiknya cukup sampai di sini? Atau boleh dilanjutkan tetapi menurut konsideran dari otoritas-otoritas tertentu (bukan otoritas administratif dan institusi keagamaan atau ideologi)? Akan tetapi, bila ruang gerak prospek ilmu pengetahuan dan teknologi ini dipagari, apakah jutsru tidak terjadi kemunduran hingga pada jamannya Galileo atau Socrates. Konsekuensinya, kemandirian ilmu pengetahuan untuk berkembang terkebiri, sementara problem yang muncul sesungguhnya tidak bersumber pada pencapaian ilmu pengetahuan dan teknologi itu.

Suatu pengetahuan pada dasarnya merupakan hasil kontemplasi untuk menguak hakikat realitas alam dan manusia sebagai suatu obyek empiris (tahap ontologis). Ketika realitas yang berbentuk obyek itu berusaha dipahami dan dimengerti (diketahui), maka itulah tahap epistemologis. Intervensi kepentingan manusia dan nilai-nilai etika, moral, dan agama tidak ditemukan dalam tahap ini dan memang tidak relevan ditempatkan dalam proses itu. Ketika ada pertanyaan tentang manfaat pengetahuan itu bagi kehidupan manusia, berarti yang dimaksudkan adalah tahap aksiologis dari pengetahuan itu. Dalam tahap ini, persitwa alam dan manusia tidak lagi bergerak secara orisinal menurut kecenderungan alamiahnya, tetapi sudah merupakan proses yang artikulatif dan manipulatif. Dalam artian bahwa, kepentingan manusia sudah dapat berinfiltrasi ke dalam penerapan pengetahuan itu.

Relasi antara ilmu dan etika, telah terjalin dalam rentang waktu yang relatif lama. Wajah harmoni yang menghiasi hampir dalam seluruh relasi yang terbentuk, dititik dan tahapan tertentu – tak dapat dihindari — harus tenoda juga dengan adanya pertentangan antara keduanya.

Seiring dengan fenomena yang menjadi fokus kajian dari filosof pada masanya, pertentangan antara ilmu dan etika pun memperlihatkan pergesaran dari yang semula, berada di ranah aksiologi, kemudian beralih ke ranah aksiologi.

Socrates yang dihukum untuk meneguk racun (terjadi pada tahun 399 SM, pada saat Socrates berusia 71 tahun), merupakan sebuah eksemplar awal, bagaimana pengetahuan dipandang bertentangan dengan etika dominan di Yunani saat itu.   Socrates diadili dan dihukum mati, karena dinilai mengajarkan ajaran sesat dan menyesatkan.  Berdasarkan hasil kontemplasinya terhadap alam semesta, Socrates sampai pada kesimpulan dan pemahaman, bawha Tuhan hanya satu dan memiliki kekuasaan terhadap segala sesuatu. Ia menemukan hal ini melalui pemikirannya sendiri, bukan dari Al-quran dan Injil. Karena, kenyataan menunjukkan bahwa kedua kitab tersebut baru ada setelah beberapa abad kemudian.  Dengan penemuannya ini ia sangat ingin mendidik moral masyarakat Athena menjadi lebih baik. Namun, penemuannya ini malah dianggap sebagai ajaran sesat, yang hanya akan meracuni pikiran dan jiwa anak-anak muda. Ia dianggap melanggar ajaran keyakinan masyarakat Yunani yang pada saat itu menyembah banyak dewa. Oleh karena itu, ia ditangkap dan dijatuhi hukuman mati[43].

Hal yang sama juga terjadi dengan pada ilmuwan Italia bernama Giordano Bruno (Tahun 1600) yang dibakar hidup-hidup karena telah secara terbuka mendukung faham heliosentris (matahari sebagai pusat kosmos dan bumi mengitarinya). Padahal kaum agamawan Eropa ketika itu meyakini yang sebaliknya.[44]

Hukuman yang dijatuhkan terhadap Giordano Bruno tersebut, hanya merupakan kelanjutan dari tragedi dalam ilmu pengetahuan, yang sebelumnya telah menimpa Galilio Galillie[45].

Berdasarkan serangkaian eksperimen, Galileo  berusaha mencari pembuktian kebenaran berdasarkan bukti empirik  dan penghitungan secara kuantitatif[46]. Ada begitu banyak teori dari kaum cerdik cendekia di masa lalu yang digugat Galileo, termasuk Aristoteles. Namun salah satu sumbangan terbesarnya dalam dunia pengetahuan adalah justru tatkala ia memberikan bukti yang memberi pembenaran atas teori yang dibuat Copernicus[47] tentang alam semesta. Galileo memberikan bukti yang dibutuhkan untuk membenarkan teori Copernicus. Dengan teleskop yang ia buat sendiri, ia menemukan gejala-gejala alam yang menunjukkan bahwa bumi dan planitnya berputar mengelilingi matahari.

Pendapat Galileo yang demikian, dipandang bertentangang dengan pemahamahan penguasa Gereja Katolik pada saat itu tidak suka dengan pandangan kosmologis heliosentris (berpusat pada matahari) yang diperkenalkan Copernicus. Gereja  lebih percaya pada pandangan yang diwariskan filsuf besar Yunani Aristoteles yang melihat bumi sebagai pusat semesta (geosentris). Bagi Gereja, teori Copernicus itu absurd. Pandangan itu dihujat bukan saja karena bertentangan dengan pemikiran para filsuf besar yang dianggap identik dengan kebenaran sejati, tapi juga karena dianggap menentang akal sehat — mengingat manusia dengan mata telanjang melihat matahari mengedari bumi dengan terbit di timur dan tenggelam di barat. Gereja berkeras bahwa Al-Kitab menyatakan dengan tegas bahwa matahari bergerak mengelilingi bumi. Dalam Injil juga termuat kutipan pernyataan (Nabi) Sulaiman: “matahari terbit dan matahari tenggelam dan bergegas kembali ke tempatnya terbit.” Bagi para petinggi Gereja, pernyataan Sulaiman itu tidak mungkin salah, karena Sulaiman adalah orang yang berbicara tidak hanya atas inspirasi Tuhan. Sebagaimana dalam tradisi Islam, Sulaiman dianggap oleh para pemuka Gereja sebagai orang yang paling bijak dan terpelajar dalam ilmu pengetahuan tentang segala benda ciptaan Tuhan, dan kearifannya berasal dari Tuhan. Menurut mereka, adalah tidak mungkin Sulaiman memastikan sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran. Di pihak lain, ada pula situasi khusus yang memang sedang melanda Kristen. Gereja Katolik ketika sedang berada pada posisi yang agak panik, terutama akibat gelombang reformasi Protestan di Jerman pada 1517 yang mengakibatkan perang 30 tahun yang memakan ribuan korban nyawa. Hampir bersamaan dengan itu, Eropa juga dihantui apa yang disebut Wabah Hitam, yang diawali oleh penyebaran  penyakit pes dari daratan Cina lewat tikus-tikus yang terbawa kapal-kapal dagang, dan menewaskan hampir sepertiga penduduk Eropa hanya dalam 25 tahun. Wabah ini dipercaya sebagai hukum yang diturunkan Tuhan pada manusia yang akidahnya telah rusak. Dengan demikian, para pemuka agama menjadi begitu sensitif dengan apapun yang akan semakin melemahkan kepercayaan umat akan Gereja. Pada pertengahan abad 16, Gereja mengeluarkan serangkaian dekrit yang menetapkan batasan-batasan penafsiran agama. Mereka menolak desakan Martin Luther – Bapak Protestan – tentang hak untuk membaca sendiri Kitab Suci oleh pribadi-pribadi. Pada 1546, Gereja membuat pernyataan bahwa “tidak seorang pun boleh mengartikan Kitab Suci menurut pendapatnya sendiri dan melencengkan Kitab suci sekehendaknya.”

Pada 1564, tahun kelahiran Galileo, Gereja mengeluarkan  ketetapan yang mewajibkan setiap pejabat Gereja Katolik mengucapkan sumpah yang antara lain berbunyi: “Saya tidak akan menerima ataupun menafsrkan Kitab Suci dengan cara lain, kecuali yang telah disetujui secara bulat oleh Bapa-Bapa Gereja.” Dengan begitu, ketika kemudian Galileo melempar bukti yang berbeda dengan keyakinan umum gereja ini,  ia pun dengan segera dituduh menyuarakan sebuah pandangan keliru yang dianggap akan merusak akidah umat. Para pemuka gereja menuduh Galileo akan mendorong kemurkaan Tuhan dengan logika sederhana: mula-mula teori-teorinya akan membuat masyarakat kehilangan kepercayaan akan isi kitab suci, lalu meragukan kebenaran sabda Tuhan dan otoritas gereja, sehingga akan tersesat menjauh dari jalan yang benar. Ini semua, pada gilirannya, akan membawa dunia pada terwujudnya janji ancaman hukuman Tuhan pada mereka yang kafir dan murtad. Galileo yang malang harus berhadapan dengan serangkaian tembok. Pada 1616, ia diperintahkan Paus Paulus V untuk berhenti menyuarakan pandangannya yang mendukung hipotesis Copernicus itu. Paus, setelah mendengarkan penjelasan sebelas ahli teologi  menetapkan bahwa teori Copernicus “berlawanan dengan dogma Gereja”. Gereja  bahkan menyatakan gagasan Copernicus itu bukan saja “bodoh dan absurd” tapi juga “secara keimanan keliru”. Keadaan memang sempat berubah. Pada 1623, seorang Paus baru – Urban VII – mengembalikan hak-hak Galileo untuk menekuni ilmu pengetahuan, meskipun tidak secara tegas mencabut larangan soal penyebaran gagasan heliosentris itu.

Galileo memang bisa dibungkam Gereja. Namun, kebenaran ternyata menemukan jalannya sendiri. Kendati karyanya dilarang, warisan Galileo dilanjutkan oleh para muridnya dan komunitas ilmuwan lebih luas. Pandangan-pandangannya terus dibicarakan dan menginsiprasikan temuan demi temuan baru. Sikap keras Gereja justru membawa pukulan balik yang tak diharapkan. Ketika masyarakat mempelajari kebenaran teori Copernicus dan Galileo, kredibilitas Gereja pun menjadi semakin goyah. Akibatnya, pemisahan agama dari sains nampak menjadi sesuatu yang sangat alamiah. Lebih buruk lagi, bagi sebagian kalangan skeptis, agama adalah musuh sains. Pada abad 18, ilmu pengetahuan mengkohkan keyakinan Galileo tentang bumi yang bergerak. Namun baru  pada 1822, gereja mulai mengizinkan penerbitan buku-buku yang mengajarkan teori bahwa bumi bergerak. Tigabelas tahun kemudian,  Dialoguekarya Galileo dicopot dari daftar buku-buku terlarang. Bagaimanapun, perdamaian Gereja dengan sang ilmuwan berjalan sangat lamban. Pada 1982, Paus John Paul II membentuk Komisi Galileo yang terdiri dari empat kelompok untuk meneliti persoalan Galileo. Dan baru sepuluh tahun kemudian Paus John Paul II dengan terbuka menyatakan dukungannya atas pemikiran Galileo. Di tahun itu, 350 tahun sejak meninggalnya Galileo, Paus menyayangkan bahwa “ketidakpahaman yang tragis telah ditafsirkan sebagai cerminan dari pertentangan mendasar antara sains dan iman.” Perdamaian itu mungkin datang terlambat. Bagaimanapun, itu merupakan pelajaran penting tentang harga yang harus dibayar takala mereka yang merasa telah menemukan kebenaran ilahiah diberi hak untuk melarang orang lain mengungkapkan kebenaran yang lain. Bahwa, alih-alih membawa kebaikan, itu justru akan menjauhkan dunia dari kebenaran yang sesungguhnya.

Seiring dengan perubahan fokus perhatian dari para filosofos dan ilmuan, pertantang antara ilmu dan etika yang semula berada di ranah aksiologi itu pun, bergeser ke domain aksiologi.

Apek aksiologis dari ilmu kerap menimbulkan kontroversi dan paradoks. Hal ini dimungkinkan karena adanya kemampuan manusia melakukan artikulasi dan manipulasi terhadap kejadian-kejadian alam untuk kepentingan  manusia yang sangat ditentukan oleh motif dan kesadarannya sebagai manusia. Jadi, fokus persoalan ilmu pengetahuan pada tingkat aksiologis ini ada pada manusia. Oleh karena itu, maka tinjauan tentang manusia akan sangat membantu memahami dan menyusun pengertian tentang bagaimana sebaiknya ilmu pengatahuan dan teknologi diteruskan pengembangannya dalam tataran aksiologi.

Dalam psikologi, dikenal konsep diri dari Freud yang dikenal dengan nama “id”, “ego” dan “super-ego”. “Id” adalah bagian kepribadian yang menyimpan dorongan-dorongan biologis (hawa nafsu dalam agama) dan hasrat-hasrat yang mengandung dua instink: libido (konstruktif) dan thanatos (destruktif dan agresif). “Ego” adalah penyelaras antara “id” dan realitas dunia luar. “Super-ego” adalah polisi kepribadian yang mewakili ideal, hati nurani. Dalam agama, ada sisi destruktif manusia, yaitu sisi angkara murka (hawa nafsu).

Ketika manusia memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk tujuan praktis, mereka dapat saja hanya memfungsikan “id”-nya, sehingga dapat dipastikan bahwa manfaat pengetahuan mungkin diarahkan untuk hal-hal yang destruktif. Misalnya dalam pertarungan antara id dan ego, dimana ego kalah sementara super-ego tidak berfungsi optimal, maka tentu — atau juga nafsu angkara murka yang mengendalikan tindak manusia menjatuhkan pilihan dalam memanfaatkan ilmu pengetahuan — amatlah nihil kebaikan yang diperoleh manusia, atau malah mungkin kehancuran. Kisah dua kali perang dunia, kerusakan lingkungan, penipisan lapisan ozon, adalah pilihan “id” dari kepribadian manusia yang mengalahkan “ego” maupun “super-ego”-nya.

Oleh karena itu, pada tingkat aksiologis, pembicaraan tentang nilai-nilai adalah hal yang mutlak. Nilai ini menyangkut etika, moral, dan tanggungjawab manusia dalam mengembangkan ilmu pengetahuan untuk dimanfaatkan bagi sebesar-besar kemaslahatan manusia itu sendiri. Karena dalam penerapannya, ilmu pengetahuan juga punya bias negatif dan destruktif, maka diperlukan patron nilai dan norma untuk mengendalikan potensi “id” (libido) dan nafsu angkara murka manusia ketika hendak bergelut dengan pemanfaatan ilmu pengetahuan. Di sinilah etika menjadi ketentuan mutlak, yang akan menjadi well-supporting bagi pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan derajat hidup serta kesejahteraan dan kebahagiaan manusia. Hakikat moral, tempat ilmuan mengembalikan kesuksesannya.

Etika adalah pembahasan mengenai baik (good), buruk (bad), semestinya (ought to), benar (right), dan salah (wrong). Yang paling menonjol adalah tentang baik atau good dan teori tentang kewajiban (obligation). Keduanya bertalian dengan hati nurani. Bernaung di bawah filsafat moral . Etika merupakan tatanan konsep yang melahirkan kewajiban itu, dengan argumen bahwa kalau sesuatu tidak dijalankan berarti akan mendatangkan bencana atau keburukan bagi manusia. Oleh karena itu, etika pada dasarnya adalah seperangkat kewajiban-kewajiban tentang kebaikan (good) yang pelaksananya (executor) tidak ditunjuk. Executor-nya menjadi jelas ketika sang subyek berhadap opsi baik atau buruk—yang baik itulah materi kewajiban ekskutor dalam situasi ini.

Peranan moral akan sangat kentara ketika perkembangan ilmu terjadi pada saat tahap peralihan dari kontemplasi ke tahap manipulasi. Pada tahap kontemplasi, masalah moral berkaitan dengan metafisik keilmuan, sedangkan pada tahap manipulasi masalah moral berkaitan dengan cara penggunaan pengetahuan ilmiah itu sendiri. Dengan kata lain ketika ilmu dihadapkan pada kenyataan, maka yang dibicarakan adakah tentang aksiologi keilmuan.

Sebelum menentukan sejauhmana peran moral dalam penggunaan ilmu atau teknologi, ada dua kelompok yang memandang hubungan antara ilmu dan moral. Kelompok pertama, memandang bahwa ilmu itu harus bersifat netral, bebas dari nilai-nilai ontologi dan aksiologi. Dalam hal ini, fungsi ilmuwan adalah menemukan pengetahuan selanjutnya terserah kepada orang lain untuk mempergunakan untuk tujuan baik atau buruk. Kelompok pertama ini ingin melanjutkan tradisi kenetralannya secara total seperti pada waktu Galileo. Kelompok kedua, berpendapat bahwa kenetralan terhadap nilai hanyalah terbatas pada metafisik keilmuan, sedangkan dalam penggunaannya, bahkan pemilihan obyek penelitian, kegiatan keilmuan harus berlandaskan asas-asas moral. Hal ini ditegaskan oleh Charles Darwin bahwa kesadaran kita akan moral dalam penggunakan ilmu kita sejogyanya menggunakan pikiran kita .

Kelompok yang mengedepankan nilai moral mengkhawatrirkan terjadinya de-humanisasi, di mana martabat manusia menjadi lebih rendah, manusia akan dijadikan obyek aplikasi teknologi kelimuan. Hal ini berkaitan peristiwa yang terjadi selama ini, yaitu : (1) Secara faktual telah dipergunakan secara destruktif oleh manusia yang dibuktikan dengan adanya Perang Dunia II. (2) Ilmu telah berkembang dengan pesat dan sangat esoterik (hanya diketahui oleh orang-orang tertentu saja) sehingga kaum ilmuwan lebih mengetahui ekses-ekses yang mungkin terjadi bila terjadi penyalahgunaan. (3) Ilmu telah berkembang sedemikian rupa dimana terdapat kemungkinan bahwa ilmu dapat mengubah manusia dan kemanusiaannya yang paling hakiki seperti pada revolusi genetika dan teknik perubahan sosial.

Persoalan baru yang muncul saat menerapkan nilai moral ialah konflik yang menimbulkan dilema nurani mana yang baik, benar, yang mana yang tidak dan mana yang selayaknya. Disinilah, etika memainkan peranannya, etika berkaitan dengan “apa yang seharusnya” atau terkait dengan apa yang baik dan tidak baik untuk kita lakukan serta apa yang salah dan apa yang benar.

Kenyataan bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh terpengaruh oleh nilai-nilai yang letaknya di luar ilmu pengetahuan , dapat diungkapkan juga dengan rumusan singkat bahwa ilmu pengetahuan itu seharusnya bebas . Namun demikian jelaslah kiranya bahwa kebebasan yang dituntut ilmu pengetahuan sekali-kali tidak sama dengan ketidakterikatan mutlak.

Bila kata “kebebasan” dipakai, yang dimaksudkan adalah dua hal: kemungkinan untuk memilih dan kemampuan atau hak subjek bersangkutan untuk memilih sendiri. Supaya terdapat kebebasan, harus ada penentuan sendiri dan bukan penentuan dari luar.
Etika memang tidak masuk dalam kawasan ilmu pengetahuan yang bersifat otonom, tetapi tidak dapat disangkal ia berperan dalam perbincangan ilmu pengetahuan. Tanggungjawab etis, merupakan hal yang menyangkut kegiatan maupun penggunaan ilmu pengetahuan. Dalam kaitan hal ini terjadi keharusan untuk memperhatikan kodrat manusia, martabat manusia, menjaga keseimbangan ekosistem, bertanggungjawab pada kepentingan umum, kepentingan pada generasi mendatang, dan bersifat universal. karena pada dasarnya ilmu pengetahuan adalah untuk mengembangkan dan memperkokoh eksistensi manusia bukan untuk menghancurkannya.  Tanggungjawab etis ini bukanlah berkehendak mencampuri atau bahkan “menghancurkan” otonomi ilmu pengetahuan, tetapi bahkan dapat sebagai umpan balik bagi pengembangan ilmu pengetahuan itu sendiri, yang sekaligus akan memperkokoh eksistensi manusia.

Pada prinsipnya ilmu pengetahuan tidak dapat dan tidak perlu dicegah perkembangannya, karena sudah kodratnya manusia ingin lebih baik, lebih nyaman, lebih lama dalam menikmati hidupnya. Apalagi kalau melihat kenyataan bahwa manusia sekarang hidup dalam kondisi sosio-teknik  yang semakin kompleks. Khususnya ilmu pengetahuan – berbentuk teknologi – pada masa sekarang tidak lagi sekedar memenuhi kebutuhan manusia, tetapi sudah sampai ketaraf memenuhi keinginan manusia. Sehingga seolah-olah sekarang ini teknologilah yang menguasai manusia bukan sebaliknya.
Selain daripasa itu, meskipun ilmu pengetahuan dengan penerapan praksisnya sukar sekali dipisahkan, tetapi jelas karena sudah menyangkut relasi antar manusia yang bersifat nyata, dan bukan sekedar perbincangan teoritik harus dikendalikan secara moral. Sebab ilmu pengetahuan dan penerapannya yang — yang berupa teknologi — apabila tidak tepat dalam mewujudkan nilai intrinsiknya sebagai pembebas beban kerja manusia akan dapat menimbulkan ketidakadilan karena ada yang diuntungkan dan ada yang dirugikan, pengurangan kualitas manusia karena martabat manusia justru direndahkan dengan menjadi budak teknologi, kerisauan sosial yang mungkin sekali dapat memicu terjadinya penyakit sosial seperti meningkatnya tingkat kriminalitas, penggunaan obat bius yang tak terkendali, pelacuran dan sebagainya. Terjadi pula fenomena depersonalisasi, dehumanisasi, karena manusia kehilangan peran dan fungsinya sebagai makhluk spiritual. Bahkan dapat memicu konflik-konflik sosial-politik, karena menguasai ilmu pengetahuan (teknologi) dapat memperkuat posisi politik atau sebaliknya orang yang berebut posisi politik agar dapat menguasai aset ilmu dan teknologi. Semuanya mengisyaratkan pentingnya etika yang mengatur keseimbangan antar ilmu pengetahuan dengan manusia, antara manusia dengan lingkungan, antara industriawan selaku produsen dengan konsumen.

Tanggungjawab ilmu pengetahuan menyangkut juga tanggungjawab terhadap hal-hal yang akan dan telah diakibatkan ilmu pengetahuan dimasa lalu, sekarang, maupun apa akibatnya bagi masa depan berdasar keputusan-keputusan bebas manusia dalam kegiatannya. Penemuan-penemuan baru dalam ilmu pengetahuan terbukti ada yang dapat mengubah alam maupun manusia. Hal ini tentu saja menuntut tanggungjawab untuk selalu menjaga agar apa yang diwujudkan dalam perubahan tersebut akan merupakan perubahan yang baik, yang seharusnya, baik bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi itu sendiri maupun bagi perkembangan eksisitensi manusia secara utuh. Dalam bahasa Melsen : Tanggungjawab dalam ilmu pengetahuan menyangkut problem etis karena menyangkut ketegangan-ketegangan antara realitas yang ada dan realitas yang seharusnya ada.

Ilmu pengetahuan secara ideal seharusnya berguna dalam dua hal yaitu membuat manusia rendah hati karena memberikan kejelasan tentang jagad raya, kedua mengingatkan bahwa kita masih bodoh dan masih banyak yang harus diketahui dan dipelajari. Ilmu pengetahuan tidak mengenal batas, asalkan manusia sendiri yang menyadari keterbatasannya. Ilmu pengetahuan tidak dapat menyelesaikan masalah manusia secara mutlak, namun ilmu pengetahuan sangat bergua bagi manusia.
Keterbatasan ilmu pengetahuan mengingatkan kepada manusia untuk tidak hanya mengekor secara membabi buta kearah yang tak dapat dipanduinya, sebab ilmu pengetahuan saja tidak cukup dalam menyelesaikan masalah kehidupan yang amat rumit ini. Keterbatasan ilmu pengetahuan membuat manusia harus berhenti sejenak untuk merenungkan adanya sesuatu sebagai pegangan.

Kemajuan ilmu pengetahuan, dengan demikian, memerlukan visi moral yang tepat. Manusia dengan ilmu pengetahuan akan mampu untuk berbuat apa saja yang diinginkannya, namun pertimbangan tidak hanya sampai pada “apa yang dapat diperbuat” olehnya tetapi perlu pertimbangan “apakah memang harus diperbuat dan apa yang seharusnya diperbuat” dalam rangka kedewasaan manusia yang utuh. Pada dasarnya mengupayakan rumusan konsep etika dalam ilmu pengetahuan harus sampai kepada rumusan normatif yang berupa pedoman pengarah konkret, bagaimana keputusan tindakan manusia dibidang ilmu pengetahuan harus dilakukan. Moralitas sering dipandang banyak orang sebagai konsep abstrak yang akan mendapatkan kesulitan apabila harus diterapkan begitu saja terhadap masalah manusia konkret. Realitas permasalahan manusia yang bersifat konkret-empirik seolah-olah mempunyai “kekuasaan” untuk memaksa rumusan moral sebagai konsep abstrak menjabarkan kriteria-kriteria baik buruknya sehingga menjadi konsep normatif, secara nyata sesuai dengan daerah yang ditanganinya.

Dewasa ini pengetahuan dan perbuatan, ilmu dan etika saling bertautan. Tidak ada pengetahuan yang pada akhirnya tidak terbentur pertanyaan, “apakah sesuatu itu baik atau jahat”. “Apa” yang dikejar oleh pengetahuan, menjelma menjadi “Bagaimana” dari etika. Etika dalam hal ini dapat diterangkan sebagai suatu penilaian yang memperbincangkan bagaimana teknik yang mengelola kelakuan manusia. Dengan demikian lapangan yang dinilai oleh etika jauh lebih luas daripada sejumlah kaidah dari perorangan, mengenai yang halal dan yang haram. Tetapi berkembag menjadi sesuatu etika makro yang mampu merencanakan masyarakat sedemikian rupa sehingga manusia dapat belajar mempertanggungjawabkan kekuatan-kekuatan yang dibangkitkannya sendiri.

Terkait dengan keterbukaan yang disebutkan diatas, maka etika hanya menyebut peraturan-peraturan yang tidak pernah berubah, melainkan secara kritis mengajukan pertanyaan, bagaimana manusia bertanggungjawab terhadap hasil-hasil teknologi moderen dan rekayasanya. Etika semacam itu tentu saja harus membuktikan kemampuannya menyelesaikan masalah manusia konkret. Tidak lagi sekedar memberikan isyarat dan pedoman umum, melainkan langsung melibatkan diri dalam peristiwa aktual dan faktual manusia, sehingga terjadi hubungan timbal balik dengan apa yang sebenarnya terjadi.

Penutup

Etika dan Ilmu pengetahuan berkorelasi dengan logikanya sendiri, seiring dengan tuntutan kepentingan dan kebutuhan manusia. Bila di awal-awal perkembanganya, relasi tersebut lebih banyak terjadi di ranah ontologi, kemudian secara perlahan bergeser ke domain aksiologi.

Dalam relasi tersebut etika memberikan kerangka analisis bagi pengembangan ilmu agar tidak melanggar penghormatan terhadap martabat kemanusiaan, sehingga pengembangan ilmu tidaklah dapat ditempatkan dalam kerangkan semata-mata untuk kepentingan ilmu itu sendiri, akan tetapi harus berpijak pada proyeksi tentang kemungkinan yang secara etis dapat diterima oleh masyarakat atau individu-individu manusia selaku pengguna atau penerima hasil pengembangan ilmu dan teknologi.

Daftar  Pustaka

Adi, Suwarto. Kehidupan Tiruan dan Etika Ilmu http://www.kompas.com/kompas-cetak/0711/05/opini/3969705.htm. 2007.
Amril M. Nilainisasi Ilmu (Sebuah Upaya Integrasi Ilmu dalam Pembelajaran Sekolah di Era Globalisasi.). http://www.uinsuska.info

Ave, Kontroversi Soal Penelitian Sel Punca. http://www.averroes.or.id/lifestyle/ kontroversi-soal-penelitian-sel-punca.html;

Chariri, Anis. Critical Theory. http://74.125.153.132/ search?. Semarang : Fakultas Ekonomi UNDIP           
Hamersma, Harry. Tokoh-tokoh Filsafat Barat Modern. Jakarta: Gramedia. 1992.
Hanafi, A. Ikhtisar Sejarah Filsafat Barat. Jakarta: Pustaka Alhusna. 1981.
Hardiman, F. Budiman. Kritik Ideologi : Menyingkap Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan Bersama Jürgen Habermas. Yogyarakta : Penerbit Kanisius. 2009.

Hardiman, F. Budiman. Melampaui Positivisme dan Modernitas: Diskursus Filosofis tentang Metode Ilmiah dan Problem Modernitas. Yogyarakta : Penerbit Kanisius. 2009.

Howard, Roy J. Pengantar atas Teori-teori Pemahaman Kontemporer: Hermeneutika; Wacana Analitik. Psikososial. dan Ontologis. Ninuk Kleden-Probonegoro (ed.). Bandung: Nuansa. 2000.
Ibrahim, Marwah Daud. Agama. Teknologi. dan Masa Depan http://quantumillahi.wordpress.com/2009/03/10/agama-teknologi-dan-masa-depan/#more-445
Julianto, Irwan. IPTEK: Obama dan Sel Punca. http://www.mail-archive.com/desentralisasi-kesehatan@yahoogroups.com/msg01285.html
Kattsoff, Louis O.  Pengantar Filsafat. alih bahasa Soejono Soemargono. Yogyakarta: Tiara Wacana. 1996.
Prawirohardjo, Soeroso H. Pengamatan Meta-Teoritis atas Ilmu Pengetahuan dan Implikasinya Bagi Program Pendidikan Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Yogyakarta: U.P. Indonesia. 1984.
Salam, Burhanuddin. Sejarah Filsafat. Ilmu dan Teknologi. Jakarta: Rineka Cipta. 2000.
Santoso, Irawan. Pengadilan Socrates. http://irawan-santoso.blogspot.com/2008/10/ pengadilan-socrates.html
Sastrapradja. Kamus Istilah Pendidikan dan Umum. Usaha Nasianal. Surabaya. tahun 1981.
Sobel, Dava. Galileo's Daughter: A Drama of Science. Faith and Love. diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul Sang Putri Galileo: Kisah Sejati tentang Pergulatan Agama. Sains. dan Cinta. Bandung : Mizan. Cetakan: Pertama. 2004
Solomon, Robert C. Etika: Suatu Pengantar. Jakarta: Erlangga. 1984.
Sugiharto, I. Bambang. Postmodernisme: Tantangan Bagi Filsafat. Yogyakarta: Kanisius. 2000.

Susesno, Franz Magnis. Pijar-Pijar Filsafat : Dari Gotholoco ke Filsafat Perempuan . dari Adam Müller ke Postmodernisme. Yogyakarta : Penerbit Kanisius. 2005.

Syekhuddin. Filsafat Modern Dan Pembentukannya (Renaisans. Rasionalisme dan Empirisme). http://jaringskripsi. wordpress.com/2009/09/22/filsafat-modern-dan-pembentukannya renaisans-rasionalisme-dan-empiris me/22 September 2009

Trenggono, Adhitya. Ilmu Dan Teknologi Nano Di Indonesia. http://nano.or.id/index.php?option=com_content&task=blogcategory&id=31&Itemid=36

van Laer, Henry. Filsafat Sains Bagian Pertama: Ilmu Pengetahuan Secara Umum. Yudian W. Asmin (ed.). Yogyakarta: Pusat Penterjemah dan Penulis Muslim Indonesia. 1995.
van Peursen, Cornelis Anthonie. Susunan Ilmu Pengetahuan. Jakarta: Gramedia. 1985.

Wibisono, Koento. Dampak Teknologi Terhadap Kebudayaan. dalam Karim. Rusli. M. & Ridjal Fauzi (Ed.). Dinamika Ekonomi dan Iptek dalam Pembangunan. Yogyakarta : Tiara Wacana. 1992.


[1] Berkisar antara empat juta tahun sampai 20.000 tahun SM, disebut juga zaman batu, karena pada masa itu manusia masih menggunakan batu sebagai peralatan. Selanjutnya pada abad ke 15 sampai 6 SM, manusia telah menemukan besi, tembaga dan perak untuk berbagai peralatan, yang pertama kali digunakan di Irak

[2] KoentoWibisono, Dampak Teknologi Terhadap Kebudayaan, dalam Karim, Rusli, M. & Ridjal Fauzi (Ed.). Dinamika Ekonomi dan Iptek dalam Pembangunan. Yogyakarta : Tiara Wacana, 1992, hal. 104.

[3] Franz Magnis Susesno, Pijar-Pijar Filsafat : Dari Gotholoco ke Filsafat Perempuan , dari Adam Müller ke Postmodernisme, Yogyakarta : Penerbit Kanisius, 2005, hal. 12

[4] Menurut Tom Sorrel, saintisme adalah suatu keperrcayaan bahwa sains adalah satu-satunya proses belajar manusia yang paling bernilai, karena sifat kegunaan, autorotaif, dan seriusnya. Lihat F. Budiman Hardiman, Melampaui Positivisme dan Modernitas: Diskursus Filosofis tentang Metode Ilmiah dan Problem Modernitas, Yogyarakta : Penerbit Kanisius, 2009, hal. 174.

[5] Teori Newton tentang tentang gerak benda-benda ditulis dalam bukunya yeng berjudul Principia Mathematica Philosophiae Naturalis (Prinsip Matematis Filsafat Alam).

[6] F. Budiman Hardiman, Melampaui Positivisme dan Modernitas: Diskursus Filosois tentang Metode Ilmiah dan Problem Modernitas, Op.Cit, hal. 22.

[7] Ilmu dan teknologi nano memungkinkan para ilmuwan untuk memanipulasi dan mengkontrol sesuatu (molekul dan atom) pada ukuran skala kecil (1 nm=10-9 meter). menuju miniaturisasi informasi dan produk. Hingga tahun 2008, berbagai produk nano telah beredar di pasaran meliputi peralatan, otomotif, lapisan pelindung, elektronik dan komputer, makanan dan kemasan, mainan anak, kesehatan dan kebugaran, serta rumah dan kebun.  Kesadaran terhadap ilmu dan teknologi nano di dunia akademik dan industri di mulai dengan pandangan inspiratif dan visioner oleh ilmuwan fisika dan penemuan alat-alat karakterisasi, dan bahan berskala nano. Richard P Feynman (salah satu penerima hadial Nobel Fisika tahun 1965) pertama kali mengungkapkan masalah bagaimana menulis seluruh 24 volume Ensiklopedia Britannica pada kepala sebuah peniti 1. Perkembangan transistor terutama field-effect transistor (FET) mendorong lebih lanjut kebutuhan akan memperkecil ukuran produk atau miniaturisasi 2. Di tahun 1981, 2 (dua) peneliti IBM, Gerg K Binnig dan Heinrich Rohrer (pemenang hadial Nobel Fisika tahun 1986) menemukanScanning Tunneling Microscope (STM) yang memungkinkan pengamatan topografi permukaan dengan format atom-demi-atom 3. Pada akhirnya, penemuan bahan C60-buckminsterfullerene olehH.W. Kroto 4 dan carbon nanotubes (CNT) oleh Sumio Ijima 5 semakin meningkatkan kesadaran masyarakat akademik, industri, dan pemerintahan untuk lebih serius mengembangkan ilmu dan teknologi nano. Lihat Adhitya Trenggono, Ilmu Dan Teknologi Nano Di Indonesia, http://nano.or.id/index.php?option=com_content&task=blogcategory&id=31&Itemid=36

[8]    istilah ”stem cell”  pertama kali diusulkan oleh histolog Russia, Alex- ander Maksimov, pada kongres  hematologi di Berlin. Ia mempostulatkan adanya sel induk yang membentuk sel-sel  darah (haematopoietic stem cells). Tahun 1978, terbukti teori ini betul dengan ditemukannya sel-sel punca di darah sumsum tulang belakang manusia. Perkembangan riset sel punca melaju cepat dalam 10 tahun terakhir. Tahun 1998,  James Thomson berhasil membiakkan untuk pertama kali sel-sel punca embrionik  manusia di Universitas Wisconsin-Madison. Oktober 2007, Mario Capecchi, Martin Evans, dan Oliver Smithies memperoleh Hadiah Nobel Kedokteran untuk riset mereka mengubah gen-gen tertentu pada mencit menggunakan sel punca embrionik  hewan ini. sel punca diyakini dapat digunakan untuk meregenasi sel-sel di tubuh manusia yang rusak. Misalnya memperbaiki bagian  jaringan jantung yang mati pada pasien serangan jantung, atau menumbuhkan jaringan otak/ saraf dan pembuluh darah baru pada pasien stroke sehingga yang tadinya lumpuh dapat berjalan lagi. Diyakini pula sel punca dapat meregenerasi  organ ginjal yang rusak, mengganti kulit pada pasien luka bakar, menyembuhkan pasien diabetes dan komplikasinya, Parkinson dan Alzheimer, arthritis, cedera  tulang belakang, dan masih banyak lagi ”mukjizat” kesembuhan lainnya. Lihat lebih lanjut ave, Kontroversi Soal Penelitian Sel Punca, http://www.averroes.or.id/lifestyle/kontroversi-soal-penelitian-sel-punca.html; Irwan Julianto, Iptek: Obama dan Sel Punca, http://www.mail-archive.com/desentralisasi-kesehatan@yahoogroups.com/msg01285.html

[9] Louis O. Kattsoff, 1986. Pengantar Filsafat. Yogyakarta: Tiara Wacana, hal. 349

[10] Robert C. Solomon, 1984. Etika: Suatu Pengantar. Jakarta: Erlangga, hal.4.

[11] Franz Magnis-Suseno, 1987. Etika Dasar: Masalah-masalah pokok Filsafat Moral. Yogyakarta: Kanisius, hal. 96

[12] Robert C. Solomon, Op. Cit

[13] Suwarto Adi. 2007. Kehidupan Tiruan dan Etika Ilmu http://www.kompas.com/kompas-cetak/0711/05/opini/3969705.htm

[14] F. Budiman Hardiman, Kritik Ideologi : Menyingkap Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan Bersama Jürgen Habermas, Yogyarakta : Penerbit Kanisius, 2009, hal. 22 dan 28.

[15] F. Budiman Hardiman, Kritik Ideologi : Menyingkap Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan Bersama Jürgen Habermas, Op. Cit, hal. 21-22.

[16] Doxa adalah keyakinan yang diterima secara universal yang menstimulasi tindakan & pemikiran agen dalam arena sosial tertentu. Lihat lebih lanjut Anis Chariri, Critical Theory, http://74.125.153.132/ search?, Semarang : Fakultas Ekonomi UNDIP, hal 15        

[17] F. Budiman Hardiman, Loc. Cit.

[18] Ciri yang menonjol dari filsafat Yunani kuno adalah ditujukannya perhatian terutama pada pengamatan gejala kosmik dan fisik sebagai ikhtiar guna menemukan asal mula (arche) yang merupakan unsur awal terjadinya gejala-gejala. Para filosof pada masa ini mempertanyakan asal usul alam semesta dan jagad raya, sehingga ciri pemikiran filsafat pada zaman ini disebut kosmosentris.  Lihat lebih lanjut Syekhuddin, Filsafat Modern Dan Pembentukannya (Renaisans, Rasionalisme dan Empirisme), http://jaringskripsi. wordpress.com/2009/09/22/filsafat-modern-dan-pembentukannya renaisans-rasionalisme-dan-empiris me/22 September 2009

[19] F. Budiman Hardiman, Kritik Ideologi : Menyingkap Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan Bersama Jürgen Habermas, Ibid. Hal 24-25

[20] Harry Hamersma, Tokoh-tokoh Filsafat Barat Modern, Jakarta: Gramedia, 1992, hal. 54-55.

[21] Yang dimaksud disini adalah penyesuaian pikiran dengan fakta.  Positivisme, dan juga empirisme, memilki anggapan dasar bahwa subjektivitas atas kebenaran adalah korespondensi antara pengetahuan dan akta indrawi, maka keduanya menganut the copy theory of truth atau the correspondence theory of truth.

[22] F. Budiman Hardiman, Kritik Ideologi : Menyingkap Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan Bersama Jürgen Habermas, Op. Cit, hal. 142.

[23] KoentoWibisono, Dampak Teknologi Terhadap Kebudayaan, dalam Karim, Rusli, M. & Ridjal Fauzi (Ed.). Dinamika Ekonomi dan Iptek dalam Pembangunan. Yogyakarta : Tiara Wacana, 1992, hal. 104.

[24] F. Budiman Hardiman, Melampaui Positivisme dan Modernitas: Diskursus Filosois tentang Metode Ilmiah dan Problem Modernitas, Op.Cit, hal. 22.

[25] Ibid, hal 23.

[26] Soeroso H. Prawirohardjo, Pengamatan Meta-Teoritis atas Ilmu Pengetahuan dan Implikasinya Bagi Program Pendidikan Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Yogyakarta: U.P. Indonesia, 1984, hlm. 9-10.

[27] Roy J. Howard, Pengantar atas Teori-teori Pemahaman Kontemporer: Hermeneutika; Wacana Analitik, Psikososial, dan Ontologis, Ninuk Kleden-Probonegoro (ed.), Bandung: Nuansa, 2000, hlm. 51.

[28] A. Hanafi, Ikhtisar Sejarah Filsafat Barat, Jakarta: Pustaka Alhusna, 1981, hal. 65

[29] Louis O. Kattsoff, Pengantar Filsafat, alih bahasa Soejono Soemargono, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1996, hal. 116

[30] Cornelis Anthonie van Peursen, Susunan Ilmu Pengetahuan, Jakarta: Gramedia, 1985, hal. 82.

[31] Burhanuddin Salam, Sejarah Filsafat, Ilmu dan Teknologi, Jakarta: Rineka Cipta, 2000, hal. 193.

[32] Henry van Laer, Filsafat Sains Bagian Pertama: Ilmu Pengetahuan Secara Umum, Yudian W. Asmin (ed.), Yogyakarta: Pusat Penterjemah dan Penulis Muslim Indonesia, 1995, hal. 133.

[33] I. Bambang Sugiharto, Postmodernisme: Tantangan Bagi Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 2000, hal. 126-127.

[34] Franz Magnis Susesno, Pijar-Pijar Filsafat : Dari Gotholoco ke Filsafat Perempuan , dari Adam Müller ke Postmodernisme, Yogyakarta : Penerbit Kanisius, 2005, hal. 12

[35] Menurut Tom Sorrel, saintisme adalah suatu keperrcayaan bahwa sains adalah satu-satunya proses belajar manusia yang paling bernilai, karena sifat kegunaan , autorotaif, dan seriusnya. Lihat F. Budiman Hardiman, Melampaui Positivisme dan Modernitas: Diskursus Filosois tentang Metode Ilmiah dan Problem Modernitas, Op. Cit, hal. 174.

[36] Ibid.

[37] W.Y Wartaya,. Loc. Cit. .

[38] Melalui slogannya cogito ergo sum, aliran rasionalisme, mengakui subjek yang mampu membentuk realtitas dengan penafsirannya. Tatanan dunia objektif yang mereka yakini dan mereka pikirkan, dibentuk antara lain oleh pikiran mereka sendiri.  Aliran ini sampai pada keyakinan, bahwa lebih sahihlah menyelidiki kondisi pikiran-pikiran manusia sendiri (subjek), daripada memperdebatkan tak habis-habisnya masalah ada tidaknya Allah, kebenaran, kebebasan, kenyataan tertinggi (objek).  Pendapat yang demikian diradikalkan oleh Immanule Kant, dengan memerlihatkan the condition o possiblility dari pikiran manusia, yaitu apa yang kemudian disebut oleh Kant dengan istilah das Ding an sich (kenyataan pada dirinya).  Dengan adanya batas-batas kemampun  pemikiran itu, ditemukan pada kenyataan indrawi yang terlihat dan terjamah, dan oleh karenanya tidaklah mungkin dapat melampaui hal-hal yang bersifat transendental (sesuatu yang berada dibalik tabir kenyataan indrawi).  Lihat lebih lanjut F. Budiman Hardiman, Melampaui Positivisme dan Modernitas: Diskursus Filosois tentang Metode Ilmiah dan Problem Modernitas, Op. Cit, hal. 52.

[39] Berbeda dengan objek ilmu pengetahuan di abad pertengahan, objek dalam positivisme ini adalah objek indrawi, bukan objek spekulatif.

[40] Apa yang dihasilkan oleh peradaban modern dan variannya yang ditopang oleh pemikiran positivisme seperti di atas, menjadikan pengembangan ilmu pengetahuan bersifat atomistik, spesifik dan rigid, sedemikian rupa akan sangat sukar terjadinya penyapaan antar ilmu sekalipun dalam objek kajian material yang sama. Terlebih-lebih lagi dalam objek kajian formal dimana menjadikan ilmu semakin terpilah dan terisolasi jauh dari ilmu lainnya sehingga sangat tidak memungkinkan adanya ketersentuhan antara satu objek kajian untuk memberikan kontribusi penyempurnaan oleh ilmu tertentu terhadap ilmu lainnya yang juga memiliki objek kajian yang sama. Lihat lebih lanjut  Amril M. Nilainisasi Ilmu (Sebuah Upaya Integrasi Ilmu dalam Pembelajaran Sekolah di Era Globalisasi,), http://www.uinsuska.info

[41] F. Budiman Hardiman, Melampaui Positivisme dan Modernitas: Diskursus Filosois tentang Metode Ilmiah dan Problem Modernitas, Op. Cit, hal. 53.

[42] Sastrapradja, Kamus Istilah Pendidikan dan Umum, Usaha Nasianal, Surabaya, tahun 1981, hlm. 144.

[45] Uraian dalam paragrap-paragrap tersebut mendasarkan pada isi buku Dava Sobel, Galileo’s Daughter: A Drama of Science, Faith and Love, diterjemhakan kedalam bahasa Indonesia dengan judul Sang Putri Galileo: Kisah Sejati tentang Pergulatan Agama, Sains, dan Cinta, Bandung : Mizan, Cetakan: Pertama, 2004. bandingkan dengan Franz Magnis Susesno, Pijar-Pijar Filsafat : Dari Gotholoco ke Filsafat Perempuan , dari Adam Müller ke Postmodernisme, Yogyakarta : Penerbit Kanisius, 2005, hal. 15-18

[46] Ini menjadi penting mengingat di masa-masa sebelumnya, umumnya  pengetahuan tentang kebenaran ditentukan para filsuf yang mendasarkan pandangannya pada pikiran dan penyelidikan kualitatif

[47] Nicolaus Copernicus (1473-1543), yang wafat beberapa tahun sebelum Galileo lahir,  percaya bahwa pusat alam semesta adalah matahari — dan bukan bumi seperti yang dipercaya sebelumnya. Menurutnya, bumi berputar, sementara matahari diam. Hanya saja, biarawan asal Polandia itu mendasarkan teorinya tersebut sekadar pada pengamatan mata telanjang,  ditambah dengan bacaan, pemikiran dan hitungan matematis. Bisa dibilang, ia dia tidak memiliki bukti empiris pendukung apapun.

Perihal Kelik Wardiono
Ilmu adalah dari orang-orang beriman, untuk seluruh umat manusia dan seluruh alam semesta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: